Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Perjuangan Orang Tua Mendaftarkan Anaknya Masuk Sekolah Negeri di Batam

Antre Sejak Subuh hingga Tidur di Sekolah

Ketatnya persaingan masuk SD negeri karena terbatasnya kuota tak pernah menyurutkan semangat para orang tua calon murid. Mereka rela berjuang ekstra keras demi mendapatkan bangku di sekolah milik pemerintah itu.

ADIANSYAH, Batam

Hari mulai beranjak siang, Selasa (21/6/2016). Namun cuaca gerah dan panas siang itu tak mengusik sejumlah warga yang memadati stand pendaftaran murid baru di SDN 10 Batamkota.
Jumono merupakan satu dari puluhan warga yang ikut antre. Pria 35 tahun itu hendak mendaftarkan putri kembarnya, Chelsa dan Chelsi.

Jumono tetap bersabar menunggu namanya dipanggil panitia. Butuh waktu yang cukup lama memang. Karena ia mendapatkan nomor antrian 144 dan 183. Padahal, Jumono datang ke sekolah tersebut sejak pukul 04.00 WIB.

“Begitulah, perjuangan untuk anak,” kata Jumono sambil mencoba tetap tersenyum.

Sengaja dirinya datang begitu pagi lantaran takut tak dapat nomor antrean. Karena jika berangkat siang, dipastikan dia tak akan mendapatkan nomor antrian dan harus datang lagi pada hari berikutnya. Sementara dia tahu, jumlah kuota siswa yang akan diterima di sekolah itu terbatas.

Tak sebanding dengan jumlah pendaftar yang bejibun.

“Makanya tadi selesai sahur langsung ke sini. Bangku (antrian) yang telah didapat jangan ditinggal, nanti dipakai orang,” ungkapnya.

Tak hanya Jumono, wali murid yang lain, juga rela subuh-subuh mendatangi sekolah tersebut dengan alasan yang sama, ingin kebagian nomor antre. Misalnya saja Susanti, sejak pukul 04.30 WIB dia datang untuk mendaftarkan anaknya, Zea Ika Ramadiyanti.

Itupun hampir saja dia tak kebagian nomor antrean. Beruntung ada satu bangku dengan nomor 193 yang belum terisi pendaftar, dengan cepat dia menandai bangku yang dimaksud.

“Kalau nggak, nggak dapat lagi saya hari ini,” ungkap wanita yang mengaku tak kebagian bangku pada hari pertama pendaftaran ini.

Menurutnya, kedatangan dirinya ke sekolah itu masih tergolong siang. Sebab ada beberapa wali murid yang sudah berada di sekolah tersebut sejak pukul 02.00 dini hari. “Ada yang tidur di sini juga, di depan sana (ruang guru). Sampai-sampai ada ibu-ibu bawa mukena kemari,” tuturnya.

Antusias warga yang rela subuh datang dibenarkan pihak panitia. Ketua Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SDN 10 Batamkota, Lusiana, mengatakan informasi itu didapatnya dari penjaga sekolah. Namun datang subuh sebenarnya tak dianjurkan oleh pihak sekolah lantaran loket pendaftaran baru akan dibuka pada pukul 07.00 WIB.

“Kita sebenarnya tak arahkan seperti itu, tapi mungkin ingin dapat antrean jadinya datang lebih awal,” ungkap Lusiana.

Walau demikian, dia cukup menghargai antusias warga yang mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut. Menurutnya antusias serupa juga terjadi sejak tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu, guna menghindari keributan saat pendaftaran, pihaknya menyiapkan bangku yang sekaligus ditempeli nomor antrian yang disiapkan sejak sehari sebelum penerimaan. Sistem ini sudah dilakukan sejak tahun sebelumnya dan dinilai efektif.

“Kalau buat kursi seperti itu jadi aman, tak ribut-ribut. Coba kalau bagi langsung pukul 07.00, pasti ribut,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SDN 10 Batamkota, Rianawati mengatakan tahun ini sekolah tersebut hanya mendapat kuota 96 orang dari tiga rombongan belajar yang tersedia. Hal ini jauh dibanding jumlah pendaftar yang cukup tinggi, hingga hari kedua nomor antrian yang tersebar sudah mencapai angka 200-an.

“Sampai hari terakhir rencananya hingga 350 antrian,” pungkasnya.

Rela datang datang subuh ke sekolah untuk mendaftar, tak hanya terjadi di SDN 10 Batamkota. Senin (20/6) kemarin, hal serupa juga terjadi di SMPN 12 Batam.

“Istri saya ke sekolah sekitar pukul 04.30 WIB dapatnya nomor 500,” kata seorang wali murid, Rian.

Merasa heran dengan nomor antrian yang demikian tinggi, cerita Rian, sang istri Wiwik Wijayanti lantas mencari nomor antrian yang lain lalu didapatkan nomor antrian yang lebih kecil.

“Akhirnya dia dapat nomor antri 184 yang diberikan temannya,” ungkapnya.

Perjuangan tak berhenti di situ. Setelah mendapat nomor antrian, proses pendaftaran terbilang lama, hingga akhirnya sekitar pukul 08.30 WIB Wiwik kembali ke rumah dan digantikkan olehnya.

“Sekitar pukul 14.00 WIB baru selesai semuanya,” pungkasnya. ***

June 22, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: