Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

KPPU Batam Sebut Bea Cukai Tutup Mata

Usut Mafia Daging Ilegal

BATAM POS, Batam

Meski banyak pihak yang meragukan, Komisi Pe­ngawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Perwakilan Daerah (KPD) Batam tetap yakin dengan data peredaran daging sapi ilegal di Batam. Seperti disampaikan sebelumnya, KPPU mencatat setiap hari ada 10 ton daging sapi ilegal yang beredar di pasaran.

Namun data ini pernah dibantah oleh Bea dan Cukai (BC) Batam serta Balai Karantina Pertanian (BPK) Kelas I Batam. Mereka menyebut data KPPU tersebut tidak akurat. Bahkan BC Batam menuding KPPU ha­nya sebagai corong pengusaha yang terlibat dalam persaingan bisnis daging di Batam.

“Kalau banyak yang mempertanyakan data itu, mari kita balik pertanyaannya. Apakah mungkin masyarakat Batam yang sebanyak 1,2 juta jiwa ini mengonsumsi hanya 1 ton daging sapi setiap hari?” ujar Kepala KPPU KPD Batam, Lukman Sungkar, saat ditemui di kantornya, Selasa (28/6/2016).

Untuk itu Lukman mengaku akan serius mengusut kasus daging sapi ilegal ini. Bahkan pihaknya akan berkoordinasi dengan Polda Kepri.

“Kapolda (Kepri) katanya ingin bertemu. Dirkrimsus (Direktur Reserse Kriminal Khusus) juga sudah menghubungi,” katanya.

Lukman menjelaskan, angka 10 ton daging impor ilegal yang beredar setiap hari di Batam itu merupakan data dari Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian, dan Kehutanan (KP2K) Batam. Ini selisih dari kebutuhan daging sapi masyarakat Batam dan kemampuan Batam memenuhi kebutuhan tersebut.

Kebutuhan daging sapi masyarakat Batam, dihitung dari kebutuhan per kilogram per kapita per tahun, sebesar 11,57 ton per hari. Sementara kemampuan Batam untuk memenuhi kebutuhan tersebut hanya ditopang dari 0,56 ton daging segar dan 0,44 ton daging impor resmi setiap harinya. Ada tiga importir resmi yang memasok daging beku ke pasar setiap harinya.

Kata dia, Dinas KP2K Batam mengakui sepuluh ton daging itu ilegal. Mereka pun sering mendapatinya di pasar-pasar Batam. Namun, mereka mengaku tidak bisa melakukan penindakan. Mereka juga tidak pernah berkoordinasi dengan Bea Cukai dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM (Disperindag-ESDM) Kota Batam. Namun Bea Cukai tak pernah melakukan penindakan.

“Jadi mereka ini terkesan tutup mata dengan kondisi ini. Padahal, mereka bisa tahu dari serat-serat daging itu,” tuturnya lagi.

Keberadaan daging sapi impor ilegal ini akan menjadi berbahaya apabila daging itu ternyata tidak diimpor dari Australia dan New Zealand, negara resmi pengimpor daging sapi. Selain kesehatannya diragukan, kehalalan daging ilegal tersebut juga patut dipertanyakan.

“Saya pernah lihat, sapi-sapi yang kedapatan memiliki penyakit mulut dan kuku itu langsung dibakar semua. Ini kan menunjukkan begitu bahayanya penyakit PMK (penyakit mulut dan kuku, red) itu,” katanya.

Selain itu, daging sapi impor juga dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap pasokan di kemudian hari. Sebab, keberadaan daging sapi ini menguasai hingga 91,35 persen pasar Batam. Ketika mereka tertangkap, pasokan daging di Batam akan bergejolak.

“Karena pasokan daging tentu akan berkurang,” katanya.

Terkuaknya peredaran daging sapi impor ilegal di Batam ini terjadi ketika KPPU tengah meneliti harga-harga bahan pangan. Tidak hanya daging. Tetapi juga bawang putih, bawang merah, cabai, beras, dan gula. Penelitian ini berlangsung secara nasional di seluruh KPD KPPU.

“Kami ingin mencari kartel pangan,” ujarnya lagi.

Namun, ia dikagetkan dengan data ketersediaan daging sapi di Batam. Sebagian besar kebutuhan daging di Batam ternyata dipasok secara ilegal. KPPU tidak akan bisa meneliti kartel daging sapi karena sebagian besar ketersediaan daging sapi itu dipasok secara ilegal.

“Itu ranahnya kepolisian,” katanya.

Lukman berharap banyak pada pihak kepolisian untuk mengungkap peredaran daging sapi impor ilegal ini. Sebab, ini memiliki kaitan langsung dengan masyarakat sebagai konsumen.

“Kami juga berharap dengan kepemimpinan Pak Tito (Komjen Pol Tito Karnavian, red) ini. Karena ketika beliau jadi Kapolda Metro (Jaya) dulu, dia sangat mendukung penghapusan kartel pangan,” tutur Lukman.

Dugaan peredaran daging sapi ilegal ini didukung data dari Badan Pengusahaan (BP) Batam. Disebutkan, PT Dewi Niaga bukanlah importir daging resmi. Namun perusahaan itu terbukti telah memasok daging beku ke sejumlah pasar di Batam, khususnya Pasar Mega Legenda, Batamcenter.

Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Purnomo Andiantono, mengatakan hanya ada tiga perusahaan yang mengantongi izin resmi impor daging dari BP Batam. Yakni PT Kharisma Karya Kartika, PT Batam Frozen Food, dan PT Dewi Kartika Inti. Ketiganya memasok daging dari tiga negara yakni Australia, Selandia Baru dan Amerika.

“Yang dari India (Alana, red) itu tidak terdaftar di kita. Kita tidak tahu kok bisa lolos di pintu masuk. Pakai surat apa ya,” jelasnya.

Kabar beredarnya daging impor ilegal ini mengusik ketenangan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi. Meski belum mendapat laporan langsung, Rudi mengaku kabar tersebut harus ditelisik dan jika benar harus diusut sampai tuntas.

“Masalah daging impor ini urusan BP (Badan penguasahaan), tapi kita tetap akan sidak,” tegas Rudi di Kantor Wali Kota Batam, kemarin (28/6).

Sementara Kepala Dinas Kelautan Perikanan, Pertanian dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam, Suhartini, mengaku tak bisa menghentikan pasokan daging sapi ilegal ke Batam. Sebab distributor kerap kucing-kucingan dengan petugas.

“Kita sudah sering. Sweeping hari ini (daging ilegal) hilang, dua hari lagi muncul, terus bagaimana caranya menghentikannya. Kan tidak mungkin setiap hari sidak,” terangnya, kemarin.
Antara daging sapi beku yang diimpor resmi dan ilegal nyaris tak ada perbedaan. Kecuali, daging tersebut masih dalam keadaan dibungkus.

“Kalau sudah di pasar, kemudian dibuka packing-nya ya tak bisa dibedakan, kecuali masyarakat beralih ke daging segar,” ujarnya.

Ia juga tak bisa menampik daging yang beredar di Batam memiliki potensi bahaya karena tak bisa dijamin kesehatan dan kehalalannya. Berbeda dengan daging yang masuk melalui Balai Karantina yang sudah diperiksa dan dicek kehalalannya.

“Kita hanya bisa mengimbau pedagang agar tak menjual daging ilegal. Kasihan masyarakat,” imbau Suhartini.

Menurut dia, peluang masuknya daging ilegal ke Batam semakin besar lantaran permintaan daging juga tinggi. Sementara daging segar yang sudah terjamin kesehatan dan kehalalannya dijual dengan harga yang jauh lebih mahal.

Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Ardianto, juga mengakui sulitnya membedakan antara daging sapi beku legal dan ilegal. Sehingga meski sudah sering melakukan pemeriksaan, pihaknya belum menemukan adanya daging ilegal di pasaran. “Kami susah membedakan mana yang legal dan ilegal itu,” ujar Ardianto, kemarin.

Pihaknya juga telah memeriksa gudang-gudang daging yang ada di kota ini. Tapi juga tak ditemukan daging beku ilegal seperti yang disebutkan KPPU Batam.

“Dari pemeriksaan yang kami lakukan, gudang-gudang tersebut dagingnya memiliki dokumen yang lengkap,” ujarnya.

Pantauan Batam Pos, pasokan daging beku di pasaran Batam masih normal, Selasa (28/6). Kecuali di Pasar Mitra Raya, Batamcenter, yang mengalami penurunan. Namun itupun hanya sekitar 10 Kg per hari.

Harga daging sapi beku juga masih stabil di kisaran Rp 85 ribu per Kg. Sementara harga daging sapi segar Rp 135 ribu per Kg.

“Masih normal, sampai Lebaran pun aman, justru Lebaran (pasokan) tambah banyak,” kata Sutrisno, penjual daging sapi di Pasar Mega Legenda, Batamcenter, kemarin. (ceu/leo/she/ska/cr13)

June 29, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: