Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Salah Langkah Anak-Anak Berprestasi

Sekumpulan anak-anak keluarga berada dan berprestasi di sekolah terlibat serangkaian tindak pencurian di perumahan mereka. Hasil curian dipakai untuk main game online dan jajan. DPRD Kepri mendesak Perda Ketahanan Keluarga disahkan.

SUPARMAN, Batam

Senyum AZI, 13, seketika mengembang saat ia keluar dari dalam kelas di sebuah SD negeri di Kota Batam. Matanya terus memandangi selembar kertas di tangan kirinya. Sementara kakinya melangkah cepat menuju tempat foto kopi di seberang sekolahnya, Rabu (15/6/2016) lalu.

Arman Suparman, Desember 2013

Arman Suparman.

Sesekali dia memperlambat langkahnya, sambil terus mengamati kertas di tangannya itu. Dia bahkan nyaris tak mengangkat wajahnya saat wartawan koran ini menyapanya.

“Mau foto kopi SK-HUN,” katanya sambil mempercepat langkahnya kembali.

Sekitar tiga menit berselang, AZI keluar dari tempat foto kopi yang menyatu de­ngan salon kecantikan itu. Di tangannya sudah ada beberapa lembar kertas. Terdiri dari satu lembar Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SK-HUN) asli, dan beberapa lembar foto kopi-an SK-HUN.

Pagi itu, AZI dan beberapa temannya di kelas VI SD negeri tersebut tengah menerima SK-HUN. Hujan deras yang mengguyur kawasan Batam Center pagi itu membuat acara penerimaan SK-HUN di SD tersebut sempat tertunda. Dari jadwal semula pukul 08.30 WIB, mundur satu jam kemudian. Namun semyum AZI tetap sumringah. Sebab hasil UN-nya kali ini sangat memuaskan.

Sebenarnya, nilai bagus bukan sesuatu yang baru baginya. Maklum, murid kelas VI-B tersebut memang langganan juara kelas. Sejak kelas I, ia hampir selalu menjadi bintang di kelas. Puncaknya pada UN kali ini. Dia kembali bisa membuktikan sebagai murid terbaik di sekolahnya.

“Semua nilainya bagus,” katanya sambil tersenyum, bangga.

Padahal, AZI nyaris tak bisa ikut UN yang digelar pada 16-18 Mei 2016. Dua pekan sebelum UN digelar, ia terlibat kasus kriminal. Bersama enam teman satu sekolahnya (beda kelas), ia ditangkap warga karena kedapatan membobol mobil milik tetangganya yang tinggal di Blok A Perumahan Plamo Garden, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Namun saat disinggung soal kasus itu, AZI buru-buru menghindar. “Mau ngasih foto kopian ke guru,” katanya sambil berlalu.

Bisa jadi, peristiwa pada Sabtu (30/4) malam itu menjadi salah satu pengalaman terburuk dalam hidupnya. Sehingga dia enggan mengingatnya. Bersama enam temannya, malam itu AZI ‘disidang’ oleh pengurus RT Perumahan Plamo Garden, sebuah perumahan elit di pusat Kota Batam. Mereka adalah Da, Dv, Di, Ap, Aw, dan Dn.

Mereka merupakan teman satu sekolah AZI yang tinggal di komplek yang sama. Hanya berbeda blok. AZI tinggal di Blok K. Sementara enam rekannya tinggal di blok-blok yang berbeda. Seperti halnya AZI, beberapa di antara mereka juga merupakan murid berprestasi di sekolah.

Sebenarnya ada 10 anak yang terlibat dalam kasus ini. Namun tiga lainnya, yakni Ga, Sa, dan An tinggal di luar Komplek Plamo Garden. Sehingga tiga anak ini tidak ikut dipanggil pengurus RT untuk disidang.

Malam itu, ke-7 anak yang seluruhnya masih duduk di bangku kelas VI SD itu dikumpulkan di balai RT. Beberapa pengurus RT ikut datang. Sejumlah sekuriti komplek juga ada. Tak lupa, para orang tua mereka juga didatangkan.

Awalnya mereka cukup te­nang menghadapi sekuriti dan pengurus RT. Tapi saat tahu orang tuanya berada di lokasi, mereka mulai ketakutan.

“Bahkan ada yang menangis,” kata Dede, sekuriti Plamo Garden yang malam itu ikut ‘menyidang’ AZI dkk.

Penangkapan AZI dkk berawal dari laporan seorang warga di Blok A di perumahan tersebut. Warga tersebut mengaku kehilangan sejumlah barang berharga serta uang tunai jutaan rupiah. Menurutnya, barang dan uang tersebut ia simpan di dalam mobil Toyota Fortuner yang diparkir di depan rumahnya. Namun semua raib. Dia juga mendapati mobilnya dirusak.

Dede dan sekuriti lainnya yang mendapat laporan itu sempat bingung. Mereka sama sekali tak punya petunjuk telah terjadi pencurian di komplek itu. Sampai akhirnya seorang warga lainnya memberikan gambar CCTv yang merekam aksi AZI cs membobol mobil Toyota Fortuner tersebut.

“Aksi mereka terekam CCTv yang dipasang di mobil warga lainnya,” ujar Dede.

Bermodal rekaman CCTv itu, Dede dan sekuriti lainnya mulai memanggil satu per satu anak yang ada dalam gambar. Sesuai data rekaman, aksi pencurian tersebut dilakukan pada Sabtu (30/4) siang sekira pukul 13.00 WIB. Dede menduga, aksi ini dilakukan saat anak-anak tersebut pulang sekolah.

“Karena mereka masih pakai seragam saat membobol mobil itu,” katanya.

Meski sudah tertangkap basah, anak-anak tersebut sempat menyangkal telah mengambil uang dan barang berharga dari mobil korban. “Awalnya tak mengakui. Tapi setelah ditunjukkan rekaman

CCTv, mereka tak bisa membantah lagi,” kata Dede.

Yang lebih mengejutkan lagi, anak-anak ini juga mengaku cukup sering melakukan aksi serupa. Sasarannya rata-rata mobil dan rumah warga dalam satu komplek.
Pengakuan ini sejalan dengan banyaknya laporan warga yang mengaku kehilangan barang maupun uang. Umumnya, mereka kehilangan uang atau barang pada siang hari.

“Ternyata pelakunya anak-anak ini,” ujar Dede.

Dalam pengakuannya, kata Dede, AZI dkk selalu berbagi tugas setiap beraksi. Ada yang bertugas mengintai, mengawasi, dan ada yang kebagian peran mengeksekusi.

Aksi maling cilik ini umumnya dilakukan pada siang hari. Sebelum melakukan aksinya, mereka melakukan survei lapangan untuk mencari calon korban.

Rumah kosong dan mobil dengan barang-barang berharga di dalamnya menjadi incaran utama. Mereka juga mengaku pernah mencuri dengan cara membobol pintu dapur rumah warga.

“Mereka bilang pernah mencuri kotak amal di masjid juga,” kata Dede.

Masih kata Dede, kepada pengurus RT AZI dkk mengaku uang hasil curian itu digunakan untuk jajan dan main game online di warnet-warnet.

Warga percaya saja dengan pengakuan mereka ini. Sebab dalam kesehariannya, AZI dkk memang tak pernah terlihat berperilaku tidak wajar. Misalnya merokok atau sejenisnya.
Dalam setiap aksinya, kata Dede, anak-anak ini juga hanya mengambil uang dalam bentuk rupiah. Menurut Dede, ini dilakukan supaya uang tersebut bisa langsung habis digunakan.

“Dolar tak diambil,” katanya.

Selain tergolong pintar di sekolah, anak-anak yang terlibat kasus ini rata-rata merupakan anak dari keluarga mampu. Seperti AZI. Ayahnya seorang polisi. Sementara ibunya seorang guru.

“Rata-rata orang kaya semua. Heran juga, kenapa mereka masih mencuri,” katanya.

Beruntung para korban tak ingin memperpanjang kasus ini. Mereka kemudian bersepakat memberikan sanksi kepada pelaku. Yakni berupa denda sebesar Rp 2 juta per anak. Sanski ini kemudian disanggupi dan dibayar oleh para orang tua anak-anak tersebut.

“Jadi nggak sampai ke kantor polisi. Kalau sampai dibawa, bisa-bisa mereka tak bisa ikut UN,” terang Dede.

Rasa heran juga disampaikan Nia, tetangga para pelaku. Menurut dia, tidak ada perilaku yang menonjol dalam keseharian AZI Cs. Seperti anak-anak komplek pada umumnya, mereka juga sering terlihat bermain.

“Mereka juga rajin salat di masjid,” kata Nia.

Namun saat ditanya soal pengawasan orang tua para pelaku, Nia menduga ada yang kurang. Sebab sebagian besar orang tua pelaku merupakan pekerja yang berangkat pagi dan pulang sore. Bahkan kadang larut malam.

“Mungkin kurang perhatian juga,” katanya.

Sementara wali kelas AZI dkk, Delma, menutup rapat cerita pencurian ini. Dia enggan ditemui untuk wawancara seputar masalah tersebut. Dia juga buru-buru menutup ponselnya saat wartawan koran ini beberapa kali mencoba mewawancarainya melalui telepon genggamnya.

***

PERISTIWA ini membuat semangat Suryani bangkit lagi. Sebab sejak tahun 2015 lalu, anggota Komisi I DPRD Provinsi Kepri ini getol memperjuangkan rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang Ketahanan Keluarga. Menurutnya, maraknya kasus kejahatan anak disebabkan lemahnya peran keluarga dan orang tua dalam mendidik anak.

“Sebab bagaimanapun, keluarga adalah pondasi utama dalam pendidikan anak. Terutama pendidikan moral,” kata Suryani, Selasa (21/6).
Politikus PKS ini mengatakan, wacana penyusunan Perda Ketahanan Keluarga ini sudah sering disampaikan dalam beberapa acara dan pertemuan dengan Pemprov Kepri. Juga dalam berbagai forum di DPRD Kepri.

“Sering kami utarakan dalam pandangan fraksi,” katanya.

Sebenarnya, kata Suryani, persoalan ketahanan keluarga dan peran orang tua dalam mendidik anak ini sudah diatur dalam beberapa produk hukum. Mulai dari UU Perkawinan, aturan BKKBN, hingga protokol PBB. Namun menurutnya perlu ada turunan aturan dalam bentuk Perda di daerah.

Sebab, persoalan anak di setiap daerah bisa jadi berbeda. Tergantung dengan kultur dan lingkungan. Dan hal ini tidak disebutkan secara spesifik di dalam undang-undang.

“Karena dalam Perda nanti akan disesuikan dengan local wisdom,” katanya.

Suryani menyebut, saat ini sudah ada beberapa daerah yang sudah memiliki Perda tentang Ketahanan Keluarga. Satu di antaranya adalah Provinsi Jawa Barat.

Mengacu pada Perda Ketahanan Keluarga Provinsi Jawa Barat, Suryani menggambarkan beberapa poin utama yang akan diatur dalam Perda yang sama untuk Kepri, nantinya. Yang pertama proses penguatan keluarga sebagai sebuah institusi sosial dan pendidikan.

Poin kedua mengenai proses dan teknis penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak. Di Jawa Barat, kata Suryani, Perda Ketahanan Keluarga-nya secara spesifik mengatur pola pendampingan keluarga bekerjasama dengan berbagai institusi. Mulai dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga tataran pengurus RT/RW.

“Nanti ada gugus tugasnya. Karena membereskan persoalan keluarga itu harus dari hulu ke hilir. Harus terintegrasi,” kata Suryani.

Di Kepri sendiri, Suryani menilai Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kepri sudah menjalankan beberapa konsep penguatan dan ketahanan keluarga itu. Namun belum menyentuh secara langsung pada proses perbaikan dan peningkatan peran orang tua dan keluarga dalam pendidikan anak.

Terkait usulan penyusunan Perda Ketahanan Keluarga ini, Pemprov Kepri sudah menyambut positif. Suryani berharap, perda tersebut akan segera terwujud.

“Saat kunjungan kerja ke DPRD Kepri beberapa waktu lalu, Banlegnas DPR RI juga mendukung,” katanya.

Menurut dia, perlu langkah serius dari eksekutif dan legislatif dalam menciptakan keluarga yang siap memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Sebab pada kebanyakan kasus, kata Suryani, kejahatan dan kekerasan anak selalu diawali dari kondisi keluarga yang tidak baik.

“Pasti ada yang tak beres di keluarganya. Makanya Perda Ketahanan Keluarga ini sangat urgent,” ujar Suryani bersemangat.

Kegelisahan yang sama juga tengah dirasakan Ketua Komisi IV DPRD Batam, Ricky Indrakari. Jumat (24/6) lalu, dia baru saja menggelar rapat dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam dan Bagian Hukum Pemko Batam. Perwakilan dari Kementerian Agama Kota Batam juga hadir dalam rapat itu.

“Kami berencana menolak pembatalan Perda Nomor 4 tahun 2010 oleh Kemendagri,” kata Ricky.

Menurut Ricky, Perda tentang Pelaksanaan Pendidikan Dasar dan Menengah itu tak selayaknya dikebiri. Sebab di dalamnya mengatur beberapa poin yang penting dalam pendidikan moral anak.
Seperti pada pasal 10 huruf j dan k yang mengatur hak para peserta didik dalam mendapatkan pelajaran agama. Baik bagi siswa muslim maupun non muslim. Perda ini juga mengatur pelaksanaan jam malam bagi semua pelajar.

“Ini belum sepenuhnya kita jalankan, tapi sudah mau dibubarkan,” kata Ricky.

Menurut Ricky, perda ini justru harus diperkuat dengan perda lainnya yang secara spesifik mengatur tentang penguatan peran orang tua dan keluarga dalam mendidik anak. Sebab kata dia, kasus pencurian terorganisir yang dilakukan AZI dan rekan-rekannya beberapa waktu lalu itu hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kasus kriminal pada anak.

Senada dengan Suryani, Ricky meyakini kasus kejahatan dan kekerasan pada anak terjadi karena lemahnya pendidikan dalam keluarga. Sehingga perlu ada penguatan dan pembinaan pada keluarga supaya mampu menghasilkan generasi yang jauh dari kasus kejahatan dan perbuatan asusila.

Apalagi, kata dia, saat ini celah perilaku kejahatan pada anak kian terbuka lebar. Ini tak terlepas dari semakin ba­nyaknya modus-modus kejahatan yang sengaja melibatkan anak-anak.

“Sekarang ini anak-anak kita diincar para bandar narkoba untuk menjadi kurir. Ini sangat mengkhawatirkan,” katanya. ***

Advertisements

June 30, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: