Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Risma Berbagi Pengalaman di Batam

Pemimpin Harus Bisa Kerja

YASHINTA, Batam

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, membeberkan rahasia suksesnya membangun Kota Pahlawan itu dengan Pemko Batam, Kamis (14/7). Menurut dia, pembangunan di Surabaya berjalan sukses karena dirinya kerap turun langsung ke lapangan untuk bekerja.

“Pemimpin itu jangan hanya bisa memerintah. Tapi harus bisa kerja langsung,” kata Risma di hadapan Wali Kota Batam Muhammad Rudi dan wakilnya, Amsakar Achmad, beserta jajaran SKPD Pemko Batam.

Risma menyebut, dirinya bahkan tak segan-segan ikut menyapu jalan bersama para petugas kebersihan Kota Surabaya. Menurutnya, ada banyak hal yang dia peroleh dengan ikut merasakan pekerjaan aparatnya.

“Ternyata menyapu jalan itu harus sabar. Kalau tak sabar tak akan selesai,” katanya di kantor Wali Kota Batam, Kamis (14/7/2016).

Dengan turun langsung ke lapangan, kata dia, seorang pemimpin akan mengetahui kebutuhan warganya. Sehingga setiap keputusan maupun kebijakan yang dibuat seorang pemimpin akan berpihak pada rakyatnya.

Dalam kesempatan itu, Risma juga sempat menyentil jumlah petugas kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Batam yang menurutnya terlalu banyak. Yakni 1.300 orang.

Menurutnya, Surabaya yang memiliki jumlah penduduk 2 juta lebih saja hanya mempekerjakan 600 petugas kebersihan. Awalnya memang petugas kebersihan di Surabaya mencapai 1.700 orang. Namun Risma menguranginya karena dinilai tidak efektif dan banyak yang kerjanya terlalu santai.

“Untuk Batam, 1.300 petugas kebersihan itu saya rasa terlalu banyak. Jadi harusnya dipangkas,” katanya, menyarankan.

Selain bermental kerja, seorang pemimpin akan sukses membangun daerahnya jika memiliki jiwa kreatif. Sehingga mereka tak hanya mengandalkan anggaran yang besar dalam bekerja. Sebaliknya, dengan anggaran yang kecil, seorang pemimpin dituntut untuk tetap memiliki optimisme memajukan daerahnya.

“Anggaran kami sedikit, namun cukup. Malahan, pembangunan proyek pembangunan jalan sering kita lebihkan. Contohnya pembangunan jalan yang hanya 400 meter, kita jadikan 600 meter,” kata Risma di lantai 5 Kantor Wali Kota Batam, kemarin.

Untuk bisa memajukan sebuah daerah, lanjutnya, pemerintah daerah harus banyak belajar dari kota-kota lainnya. Tak hanya belajar, kepala daerah juga harus mempraktikkan langsung hal yang didapat jika dianggap bisa memajukan kota.

“Saya belajar melihat dan mendengar di mana saja. Tak mesti di kota maju. Namun yang perlu saya tekankan, penggunaan anggaran harus diefesienkan,” jelas Risma.
Di Kota Surabaya biaya pendidikan, kesehatan hingga ambulan gratis untuk masyarakat. Bahkan, Pemkot Surabaya menyiapkan makanan untuk para lansia, serta pengobatan gratis setiap bulannya.

“Saya mencoba memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Bahkan, untuk pembuatan akte, tanda kematian dan SIUP TDP bisa daftar lewat hape. Nanti setelah tiga hari, petugas kita lah yang mengantarkannya ke rumah warga,” jelas Risma.

Menurut dia, untuk menjaga kualitas para pegawainya, ia tak lupa memberikan insentif. Besaran insentif tergantung dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya. Hal itu dilakukan agar para pegawai bisa semangat bekerja. Dan yang paling penting terhindar dari yang namanya korupsi.

“Insentif tergantung kenaikan PAD. Dan sebelum memberikan insentif saya juga presentasi dengan KPK apakah insetif yang diberikan berlebihan atau tidak,” imbuh Risma.

Karena itu, lanjut Risma, tak satupun proyek yang ada di Surabaya dikerjakan oleh pihak asing.
Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengakui banyak hal yang bisa dicontoh dari gaya kepemimpinan Risma. Untuk itu, dia akan mengirimkan jajarannya ke Surabaya untuk studi banding.

“Nanti akan saya minta belajar ke Surabaya. Biar bisa menata Kota Batam lebih baik lagi,” kata Rudi.

Dalam kesempatan itu Rudi juga memaparkan kompleksnya persoalan di Batam. Misalnya soal banjir. Pemko Batam kesulitan menangani masalah ini karena terbentur dengan keterbatasan kewenangan, terutama soal lahan.

Kata dia, Pemko Batam sebenarnya memiliki konsep dan skenario yang matang dalam menangani masalah banjir. Misalnya dengan membangun drainase induk. Namun hal ini terkendala karena lahan di Batam dikuasai Badan Pengusahaan (BP) Batam.

“Perlu ibu ketahui, satu dua jam saja hujan, Batam tenggelam. Batuampar banjir setinggi pinggang orang dewasa,” jelas Rudi.

Tumpang tindih kewenangan perizinan di Batam juga menjadi kendala Pemko Batam dalam percepatan pembangunan kota. Sebab perizinan di Batam masih dikelola dua institusi, yakni Pemko Batam dan BP Batam.

Terkait hal ini, kata dia, pemerintah pusat mewacanakan penggabungan perizinan di BP Batam dan Pemko Batam. “Saya tidak sepakat, karena nanti wali kota yang akan dimasalahkan,” terang Rudi.

Selain berbagai pengalaman, agenda kunjungan Wali Kota Surabaya kemarin adalah penandatanganan nota kesepakatan (MoU) dengan Pemko Batam mengenai teknologi dan informasi, manajemen perkotaan, penanganan trafficking perempuan dan anak, kebudayaan dan pariwisata, pengelolaan potensi pangan, hingga mengatasi pemasalahan sampah. ***

July 15, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: