Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

2.800 Tentara Turki Ditangkap

Upaya Mengudeta Presiden Recep Tayyip Erdogan

JPNN, Angkara

Pemerintah Turki menuduh ulama senior Fethullah Gulen sebagai dalang kudeta gagal oleh sejumlah personel militer, Jumat (15/7/2016) waktu setempat. Dua pemimpin negara tertinggi Turki, Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Binali Yildrim langsung mengeluarkan pernyataan keras mengecam Gulen.

Erdogan menyebut Gulen telah berkhianat kepada negara dan masyarakat Turki. Dia juga menantang pria 75 tahun yang kini hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat itu untuk kembali ke Turki dan mempertanggunjawabkan perbuatannya.

”Cukup sudah, pengkhianatan yang kau tunjukkan kepada negara dan komunitas ini. Kalau kau berani, kembali ke negaramu. Kau tidak akan mampu mengacaukan negara ini dari tempatmu sekarang,” ujar Erdogan berapi-api seperti dikutip dari BBC, Sabtu (16/7/2016).

Hal senada disampaikan PM Yildrim dalam pidatonya yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi Turki beberapa saat lalu. Dia pun meminta negara asing untuk tidak membela Gulen.

Yildrim bahkan secara tegas mengatakan negara yang mendukung Gulen bukan sahabat Turki. ”Dan akan dianggap memerangi Turki,” ujar dia.

Dalam pidato yang sama, Yildrim juga mengumumkan lebih dari 2.800 personel militer telah ditahan karena terlibat dalam kudeta. Termasuk di dalamnya semua tokoh kunci gerakan tersebut.
Untuk diketahui, Faetullah Gulen saat ini tinggal di Pensylvania, Amerika Serikat. Salah satu figur paling berpengaruh di Turki, pendiri gerakan Hizmet itu lari ke Negeri Paman Sam pada akhir dekade 1990 untuk menghindar dari tuduhan makar terhadap konstitusi.

Pada Desember 2014, pemerintahan Erdogan menempatkan Gulen dalam daftar buron atas tuduhan terorisme. Gulen sendiri telah membantah semua tuduhan, termasuk terkait kudeta militer.

Akses Pangkalan Militer yang Dipakai Amerika Ditutup

Konsulat Amerika Serikat di Turki melaporkan pemerintah setempat telah melarang pergerakan keluar masuk dari Pangkalan Udara Incirlik di Adana, Sabtu (16/7). Suplai listrik ke instalasi militer tersebut juga telah diputus.

Langkah ini diambil tak lama setelah berakhirnya upaya kudeta oleh sejumlah anggota angkatan bersenjata Turki terhadap pemerintahan yang sah di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan. Pihak AS pun memperingatkan semua personel untuk menghindari Incirlik sampai situasi kembali normal.

Selain markas Angkatan Udara Turki, Incrilik juga digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat. Tercatat 1.500 personel militer dan pegawai sipil AS ditempatkan di sana. Dari lokasi tersebut pasukan AS melancarkan serangan udara terhadap ISIS.

Sejak Jumat (15/7), Pentagon sudah mengambil langkah-langkah untuk memastikan keamanan dan keselamatan semua personel dan fasilitas AS di Incirlik. Namun mereka sama sekali tidak menduga pemerintah akan mengisolasi pangkalan tersebut.

”Kami memantau secara seksama situasi di Turki. Saat ini belum ada dampak (kudeta) terhadap Pangkalan Udara Incirlik dan operasi antiISIL di sana terus berjalan,” ujar salah seorang pejabat Kementerian Pertahanan AS kemarin.

Belum jelas apa alasan pemerintah Turki mengisolasi Incirlik. Namun, otoritas setempat sempat mengatakan bahwa prajurit yang terlibat dalam kudeta sebagian besar berasal dari angkatan udara.

Amerika Bersedia Bantu Tangkap Gulen

Sementara itu Pemerintah Amerika Serikat bersedia membantu menangkap Fethullah Gulen yang dituding sebagai otak kudeta oleh pemerintah Turki. Namun, Negeri Paman Sam meminta Turki untuk menghadirkan bukti keterlibatan ulama senior tersebut.

”Amerika Serikat tentunya akan mendukung semua bentuk penyelidikan resmi dan sesuai proses hukum, kami akan membantu pemerintah (Turki) sepenuhnya jika diminta,” ujar Menteri Luar

Negeri AS John Kerry di sela-sela kunjungannya ke Luxemburg, Sabtu (16/7).

Seperti diketahui, Gulen saat ini tinggal di Pensylvania, Amerika Serikat. Bekas sekutu Presiden Recep Tayyip Erdogan itu sejak 2014 masuk daftar buronan pemerintah Turki atas tuduhan terorisme.

Dalam pernyataanya, Kerry juga menyampaikan dukungan AS kepada pemerintah Turki yang sah di bawah Erdogan. ”Amerika tanpa keraguan mendukung pemerintahan yang demokratis, pemimpin yang terpilih secara demokratis dan proses konstitusional,” ujar anak buah Presiden Barack Obama itu.

Istana Presiden Turki Dibom F-16

Pemerintah Turki memperbaharui data korban tewas dalam kekisruhan usaha kudeta yang dilakukan sekelompok tentara. Kantor kejaksaan negara itu mengumumkan sedikitnya 60 orang dinyatakan tewas selama ketegangan dari Jumat (15/7) malam sampai Sabtu (16/7) dinihari, waktu setempat.

Namun, lokasi dari 60 orang tewas itu tidak dijelaskan rinci. Sebelumnya, diberitakan bahwa 42 orang tewas di Ankara.

Situasi Ankara digambarkan sangat mencekam. Istana Presiden sempat diserang militer pro-kudeta dengan bom dari pesawat yang diduga sebagai F-16. Serangan ini melukai banyak pendukung pemerintah yang membuat pagar betis di sekitar wilayah tersebut.

Setelah Deputi Perdana Menteri Turki, Mehmet Simsek menegaskan bahwa upaya kudeta oleh sekelompok kecil militer telah gagal, insiden ledakan dan saling tembak masih terdengar di beberapa titik di Ankara dan Istanbul.

Di Istanbul, AP melaporkan, setidaknya 150 orang dirawat di Rumah Sakit Numune Haydarpasa. Sebelumnya, penyiar lokal NTV mengatakan bahwa setidaknya enam mayat diangkut ke rumah sakit yang sama.

Sedangkan para prajurit pro kudeta yang tersisa di Jembatan Bosporus dilaporkan telah menyerah.

Pidato Heroik Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bergegas terbang ke Istanbul saat mendengar ada gerakan kudeta oleh sejumlah anggota angkatan bersenjata, Jumat (15/7) malam waktu setempat. Padahal, ketika itu dia sedang berlibur dengan keluarganya di luar kota.

Tiba di Bandara Attaturk, Sabtu (16/7) dini hari, Erdogan langsung menyapa pendukungnya. Di tengah kerumunan pendukungnya, petinggi Partai Keadilan dan Pembangunan itu berpidato selama 10 menit.

”Saudara-saudariku, saya atas nama pribadi, atas nama bangsa ini, mengucapkan terimakasih atas aksi heroik yang kalian perlihatkan. Saudara-saudari tercinta, kita semua bersama dalam perjalanan suci ini,” kata Erdogan membuka pidatonya sebagaimana disiarkan oleh CNN Turki.

”Dalam perjalanan ini, ketundukan, penghambaan hanya ada kepada Allah. Mereka yang menghamba kepada hamba, menghamba kepada kepentingan, dengan menyusup ke dalam tubuh militer kita yang bersih, lewat apa yang mereka lakukan pada pasca 17-25 Desember, lewat apa yang mereka lakukan (kudeta) tadi malam, mereka menampakkan diri mereka sebenarnya,”

“Kemarin sore, mereka memperlihatkan teror dalam arti sebenarnya. Begitu rendahnya mereka ini, senjata, tank dan helikopter yang dibeli dengan hasil keringat rakyat, mereka todongkan kepada rakyat. Pesawat F-16 terbang di langit ini, apa itu mereka beli dengan uang bapaknya?” sela Erdogan dengan keras.

Erdogan juga menyebut kelompok pengkudeta ini adalah sekelompok kecil di dalam tubuh militer. Mereka tidak mengendalikan militer, dan mereka tidak bisa dan tidak mampu melakukannya. Pemerintah yang dipilih rakyat saat ini masih dalam tugas.

“Saya ingin kalian tahu ini. Selama nyawa ini di kandung badan, dengan kain kafan tersarung, tidak ada yang tidak bisa kita lakukan untuk berdiri kokoh melawan kelompok ini,” kata Erdogan menekankan.

Dalam kesempatan ini, Erdogan juga menyampaikan pesannya ke Pensilvania, kepada pimpinan kelompok yang dikenal dengan ”parallel state”: ”Cukup pengkhianatan yang kamu lakukan terhadap bangsa ini, terhadap umat ini. Kalau kamu tidak bersalah, ayo balik ke negerimu. Kekuatanmu tidak akan cukup untuk mengobok negri ini dari sebuah kamar,” serunya. (ald/rmol/jpnn)

 

Catatan Kudeta Pernah Terjadi di Turki

1960: Mei, militer Turki menahan seluruh anggota Partai Demokrat yang kala itu memerintah. Kala itu militer juga mengadili anggota Partai Demokrat.

1961: Militer Turki pernah menggulingkan Perdana Menteri Adnan Menderes. Militer lantas menggantung Adnan bersama menteri luar negeri dan menteri keuangannya.

1971: Militer Turki kembali membubarkan pemerintahan. Angkatan bersenjata itu memaksa Suleyman Demirel mundur dari posisi perdana menteri.

1980: Para jenderal di Turki mengintervensi besar-besaran di kancah politik ketika terjadi bentrok antara kelompok mahasiswa Sayap Kanan dan Kiri yang menggiring negeri transkontinental itu ke jurang perang saudara. Kala itu pemimpin junta militer, Kenan Evren mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden, sekaligus menulis ulang konstitusi yang menjamin kekuasaan angkatan bersenjata.

1997: Militer Turki memaksa pemimpin koalisi kelompok Islam yang berkuasa, Nekmettin Erbakan untuk mengundurkan diri dari tampuk kekuasaan. Kala itu Erbakan dituding memimpin Turki dengan aturan agama. Namun, militer tidak mengambil alih kekuasaan, tapi mendorong para politisi sekuler untuk membentuk pemerintahan baru.

2016: Pada 15 Juli, militer Turki kembali kudeta. Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut kudeta itu gagal dan dirinya tetap menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata Turki. ***

July 17, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: