Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Shiela Vika Tujuh Tahun Melukis Karakter Horor

Trauma dengan Lukisan Kuntilanak?

Siapa yang tak ingin memiliki bakat unik dan bisa menghasilkan uang. Bahkan di usia yang masih muda, bakat tesebut sudah bisa dijual dan menjadi cara untuk menambah penghasilan. Salah satunya adalah Shiela Vika, seorang pelukis muda yang saat ini masih berstatus mahasiswa. Seperti apa bakatnya?

JENNIFER AGUSTIA, Jambi

BAKAT melukis telah banyak dimiliki orang. Namun, karakter yang kuat serta goresan khas di atas media lukis, hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya. Melukis sketsa pemandangan tentu sudah bisa dilihat. Namun, bagaimana dengan lukisan hantu atau karakter-karakter horor lainnya.

Shiela Vika, 23, adalah salah satu mahasiswa FKIP Unja jurusan Bahasa Inggris. Dia kini tengah menunggu jadwal wisuda. Di tengah kesibukannya kuliah, Shiela juga menerima orderan lukisan. Untuk stiker, marchandise, dan lain sebagainya. Namun, lukisannya bukan lukisan biasa, dia menggambar karakter horor dengan tema darkness atau kegelapan.

Sejak kecil, Shiela memang sudah hobi melukis. Namun, kegandrungannya terhadap karakter horor baru muncul sejak tujuh tahun lalu. Dia lebih cenderung melukis karakter perempuan dengan goresan yang bisa membuat bulu kuduk merinding. ”Saya lebih cenderung bikin lukisan perempuan, lebih ke feminisnya,” paparnya.

Dari karya-karyanya, terlihat lukisan dengan tema dark, serta karakter hantu modern dari berbagai negara. Memang karakter tersebut tidak lazim ditemukan dalam cerita horor di Indonesia.

”Saya sih sudah mulai suka lukisan horor itu sejak tujuh tahun lalu. Kalau hobi melukis sudah sejak kecil,” katanya.

Shiela mengaku tidak pernah merasa ngeri atau takut dengan lukisan horor yang dibuatnya itu. Namun, ada satu yang membuatnya trauma dan tak mau lagi melukis karakter tersebut. Yakni pada suatu malam saat ia sedang melukis karakter kuntilanak untuk pesanan stiker pack.

”Ketika lagi megang gambar itu, ada suara kuntilanak cekikikan di luar rumah. Langsung dihapus gambarnya. Sejak saat itu ga mau lagi gambar hantu-hantu seperti itu, takutnya datang lagi. Sekarang bikin horor biasa aja,” kisahnya kepada Jambi Independent.

Shiela mengatakan, lukisan yang dibuatnya menggunakan berbagai macam media. Seperti kertas, bahkan menggambar wajah manusia atau face painting yang biasanya digunakan untuk pementasan.

”Kalau face painting tergantung event,” katanya, Rabu (27/7/2016).

Kemudian, untuk lukisan biasa, dia menggunakan media kertas. Kemudian, karakter dilukis menggunakan pensil sebagai sketsa dasar. Setelah itu diselesaikan menggunakan pulpen.

”Kalau ada pesanan, dibuat pakai tablet,” katanya.

Lukisan Shiela ini bermanfaat juga untuk menambah uang sakunya. Bahkan beberapa waktu lalu, dia menjual sebuah lukisan horor underground ke warga negara Jerman yang kebetulan sedang berada di Jambi. Shiela juga tak mematok harga yang tinggi untuk lukisannya.

”Di jual dengan harga teman, untuk ukuran A3 antara Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu,” tandasnya. (*/nid/jpnn)

July 27, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: