Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Sebelum Memotong, Petugas Ambil Wudu Dulu

Rumah Pemotongan Hewan Syar’i Raudhah Farm Enterprise

Di pasar, pedagang ayam juga menyediakan layanan potong ayam dan pembersihan secara gratis. Tetapi, yakinkah kita ayam-ayam itu halal, alias dipotong sesuai syariat?

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Arief Budiman membawa empat ayam masuk ke dalam ruang pemotongan, pagi itu. Ia menggantung ayam itu dalam keadaan terbalik di hanger. Kaki di atas, kepala di bawah. Ayam-ayam itu menggelepak-gelepak hingga kemudian tenang dalam waktu kurang dari semenit.

Pria dengan peci di kepala itu mengambil pisau. Di depan ayam-ayam, ia tampak diam sesaat. Lalu menyobek leher mereka satu per satu dengan cepat. Darah muncrat ke plastik di balik hanger. Ayam-ayam menggelepak-gelepak lagi. Arief pergi mencuci tangan dan pisaunya. Dua menit kemudian, ayam-ayam itu diam tak bergerak lagi.

Arief mengecek sebuah panci besar tak jauh dari perangkat hanger. Ia menuang air lalu mengecek temperaturnya. “Suhunya antara 50-60 derajat,” katanya, Jumat (29/7/2016.

Panci besar itu untuk merebus ayam. Cara ini digunakan supaya bulu-bulu ayam mudah dicabut. Waktu perebusan pun tak lama. Dalam sekejap mata, Arief sudah mengeluarkan kembali ayam-ayam itu.

Ia memasukkan ayam itu ke panci besar lain tak jauh dari panci merebus tadi. Panci itu, namun demikian, bukan untuk merebus. Panci itu mencabut bulu-bulu. Di dalam panci itu terdapat tongkat bergerigi saling silang yang akan berputar jika saklar ditekan ON. Bulu-bulu akan tercerabut secara otomatis dari tubuh ayam.

Ayam-ayam itu kemudian akan dibersihkan. ‘Jeroan’-nya dipisahkan. Setelah itu, Arief akan mencucinya dengan air sumur yang dingin. Pencucian dengan air sumur ini sengaja dilakukan. Air dingin mampu memperlambat pertumbuhan bakteri pada daging ayam.

Karkas -ayam tanpa jeroan, itu kemudian dipotong sesuai pesanan. Ada dua cara yang disediakan. Bisa dengan mesin. Atau dengan cara manual, menggunakan pisau. Hasil potong dengan mesin lebih rata ketimbang hasil potong dengan pisau.

Setelah itu, ayam tersebut kembali akan disucikan dengan dicuci. Kemudian dibungkus dan dimasukkan ke dalam kantong plastik bersih. Masyarakat dapat segera mengolah daging ayam itu atau menyimpannya di kulkas.

“Tidak perlu lagi mencucinya sesampainya di rumah. Karena daging ayam yang dipotong di tempat kami sudah bersih dan, yang terpenting, halal,” kata Pemilik Rumah Pemotongan Hewan Syar’i Raudhah Farm Enterprise, Sulistyawan Oentoeng.

Itulah tahapan proses pemotongan hewan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Syar’i Raudhah Farm Enterprise. Ini RPH syar’i kedua yang ada di Batam. Satu lainnya berlokasi di wilayah Sei Temiang, Sekupang.

Sulistyawan Oentoeng yang akrab disapa Iwan itu mengatakan, rumah potongnya merupakan versi mini RPH syar’i yang berlokasi di Sekupang. Ia bermitra dengan rumah potong tersebut.

“Makanya kami buat di Batamcentre. Ini untuk mengakomodir masyarakat yang tinggal di wilayah Batamcentre,” kata Iwan.
RPH Syar’i Raudhah Farm Enterprise berlokasi di tepi Jalan Hang Tuah. Tepatnya, di samping gerbang masuk Perumahan Villa Pesona Asri. Jalan masuknya sudah beraspal. Meski naik turun dan berbatu-batu.

Bangunan RPH tersebut dikelilingi pepohonan. Tak jauh dari bangunan itu terdapat kolam bekas galian. Bangunan itu jauh lebih rendah dari tanah di sekitarnya.

Lingkungan di sekitar bangunan itu terbilang bersih. Jauh dari kesan kotor. Dan sekilas tidak nampak bahwa tempat itu tempat jagal para unggas.

Proses memotong dan pengolahan ayam potong dilakukan di dalam ruangan. Semuanya menggunakan peralatan. Peralatan itu terbuat dari stainlessstell. Tidak ada peralatan berbahan plastik di sana. Ini untuk memudahkan proses pembersihan.

“Kami mengikuti standar RPH syar’i. Ruangan berlantai keramik, dindingnya pun keramik,” tutur Iwan lagi.

Darah yang muncrat dari ayam akan ditangkap plastik. Jadi tidak akan sampai ke dinding keramik. Petugas akan membersihkannya setelah memotong 42 ekor ayam. Atau, segera membersihkannya jika tidak ada pesanan potongan lagi.

“Meskipun yang kami potong hanya satu ekor, kalau sudah tidak ada pesanan lagi, akan kami bersihkan,” katanya.

Iwan memang selalu berpesan pada anak buahnya untuk selalu menjaga kebersihan area RPH. Selain itu, ia juga menjaga syariat pemotongan hewan. Syariat itu dimulai dari sebelum petugas potong memotong hewan.

“Ustaz Arief ini akan mengambil wudu sebelum mengambil ayam yang akan dipotong. Kami menyediakan kran untuk wudu di belakang,” ujarnya.
Petugas potong harus menggunakan pakaian yang menutup auratnya. Nah, ayam-ayam itu harus tenang sebelum dipotong. Juga harus sampai tenang, setelah ayam itu dipotong, sebelum masuk ke panci perebusan.

“Sebab, kalau masih bergerak-gerak dan dimasukkan ke panci rebus, bisa jadi ayam itu mati karena direbut, bukan dipotong. Syariatnya jadi gugur,” tambah Iwan.
Petugas potong akan membaca ‘bismillahi allahuakbar’ sebelum memotong leher unggas. Arief Budiman, petugas potong RPH tersebut, menambahkan bacaan istighfar dan salawat. Bacaan itu katanya untuk menjaga niatnya memotong hewan.

“Karena kalau kita berpikir kasihan sedetik saja sebelum memotong hewan itu, rasa dagingnya akan lain,” tutur pria yang telah mengantongi sertifikat halal sebagai petugas potong hewan itu.

RPH Syar’i Raudhah memiliki petugas potong lain yang juga sudah bersertifikat halal. Namanya, Ahmad Saifuddin. Dia juga pemilik sebagian modal pendirian RPH tersebut.

Iwan mengatakan, RPH Syar’i Raudhah dibangun tanpa pinjaman bank. Iwan menghindari riba. Dan ia juga mempertahankan hukum jual-beli ala Islam. Baik itu jual beli bahan maupun ayam potong.

Hukum jual beli itu adalah saling bertatap muka dan berjabat tangan. Setelah itu uang harus diberikan secara tunai.

“Tapi kalau pembelian dalam jumlah banyak, pembeli bisa transfer. Tidak apa-apa, karena kan nilai yang ditransfer masih sama dengan nilai belinya,” jelas Iwan.

RPH Syar’i Raudhah mulai muncul akhir Maret lalu. Selama bulan Mei, mereka melakukan renovasi bangunan. Di bulan Juni, produksi sudah mulai berjalan.
Pesanan, namun demikian, masih jauh dari target. Belum banyak orang yang menggunakan jasanya. Mereka masih senang mengkonsumsi ayam yang dipotong di pasar, yang belum tentu sesuai syariat.

Ia berpikir, mungkin karena harga. Harga ayam potong RPH-nya memang lebih mahal dari pasar. Ayam jenis spring di RPH-nya biasa dijual dengan harga kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 27 per kilogram. Di pasar, harganya hanya Rp 21 ribu.

“Tapi kalau ayam pedaging kami jual Rp 33 ribu per kilogram dan pasar menjualnya Rp 35 per kilogram. Eh, masyarakat masih beli di pasar juga. Saya nggak paham di mana logikanya,” tuturnya lagi.

Iwan tidak mengharuskan masyarakat membeli ayam di tempatnya. Masyarakat juga bisa membawa ayam sendiri dan memanfaatkan jasa potong syar’inya. Untuk itu, ia hanya memasang harga Rp 2 ribu per ekor ayam.

Hingga saat ini, sudah beberapa rumah makan yang menjadi pelanggannya. Seperti, misalnya, Kopitiam 189 Purimas dan Warung Makan Bu Siddiq di Batubesar. Mereka memesan 10 hingga 15 ekor ayam per hari.

Iwan mengatakan, ia sebenarnya tidak mengejar profit dalam bisnis ini. Bisnis ini, katanya, menjadi ladang dakwahnya. Ia banting setir ke bisnis ini. Sebelumnya, 21 tahun ia berkerja di bidang gas dan perminyakan.

Ia menginvestasikan seluruh pesangonnya membangun RPH tersebut. Ini karena ia ingin membuat masyarakat Batam lebih peduli dengan makanan halal. Mengkonsumsi makanan halal, diyakininya, dapat memudahkan ilmu masuk ke dalam otak. Ia percaya, makanan halal dapat mengubah pola pikir anak bangsa.

“Tetapi, kalau tidak ada yang beli ya sama saja. Lama kelamaan bisnis ini akan berakhir. Dakwah Islamnya juga berakhir,” tuturnya. ***

July 31, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: