Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Perang Melawan Sampah di Laut

Menyongsong Festival Bahari Kepri (1)

SOCRATES, Batam

Setelah sukses dua kali Batampos Grup menggelar Festival Sungai Carang, kini perhelatan nasional Festival Bahari Kepri bakal digelar. Acara ini akan berlangsung seiring dengan Sail Karimata, 20 sampai 30 Oktober 2016 mendatang.

socrates-selasa-23-april-2013-suprizal-tanjung-8 image

Socrates di Graha Pena, Batam Kota, Batam, Selasa (23/4/2013). F Suprizal Tanjung

Sungai adalah sumber kehidupan dan peradaban. Dari sungai suatu kelompok berkembang, menjadi kampung, negeri dan bandar yang ramai. Seperti itulah berkembangnya Sungai Carang, lalu meredup dan nyaris dilupakan orang.Padahal, Sungai Carang yang juga disebut Ulu Riau atau Riau Lama ini, adalah tapak dan jejak sejarah Melayu.

Dalam hikayat negeri Johor, tahun 1672 M Laksamana Johor Tun Abdul Jamil membangun sebuah negeri melaksanakan titah Sultan Abdul Jalil Syah, Sultan Johor di Pahang, untuk membuat sebuah negeri di Pulau Bintan.Negeri baru yang terletak di Sungai Carang Pulau Bintan itulah yang disebut Riau. Kini, Sungai Carang sangat layak dijadikan obyek wisata sejarah dan budaya serta wisata bahari.

Untuk mendongkrak kunjungan wisata asing, pemerintah menggelar sail, yakni turnamen reli yacht yang digemari turis asing dari berbagai negara.

Tahun 2009, digelar Sail Bunaken dan selanjutnya Sail Banda, Sail Wakatobi dan Sail Morotai. Tahun 2013 digelar Sail Komodo bersamaan dengan Festival Derawan, Sail Raja Ampat dan Festival Danau Sentani, Sail Tomini dan Festival Boalemo. Dan tahun 2016 ini, digelar Sail Karimata dan Festival Bahari Kepri.

Provinsi Kepri, sangat pantas menjadi pintu gerbang wisata bahari Indonesia. Sebab, 96 persen wilayahnya laut dan keindahan alam bahari yang mempesona. Lokasinya yang sangat strategis memiliki 2.408 pulau. Apalagi, ada sebanyak 4.000 lebih yacht yang parkir di Singapura. Selain Batam, Tanjungpinang, Bintan dan Karimun, di Lingga ada zero equator yang menjadi incaran para yachter dan alam nan eksotik di Natuna dan Anambas.

Menyongsong Festival Bahari Kepri, Gubernur Kepri Nurdin Basirun sudah menetapkan panitia pelaksana Festival Bahari Kepri dalam rangka Sail Selat Karimata 2016 dan mengadakan rapat koordinasi pada awal Juli lalu. ”Kita harus kompak dan menjaga kebersamaan antara Pemda, dunia usaha dan aparat keamanan. Keunikan budaya, keamanan dan kenyamanan akan membuat tamu terkesan. Kepri akan bikin kejutan dalam festival bahari ini,’’ kata Nurdin Basirun, dalam rapat di Tanjungpinang.

Masalah yang mengemuka dalam rapat itu, soal sampah di laut yang disampaikan Boby Jayanto. ‘’Sampah di laut selain mengganggu kebersihan laut dan pantai kita, juga akan menjadi kendala bagi kapal layar dan yacht karena sampah bisa tersangkut di motornya. Sebaiknya disediakan sarana pengangkutan sampah, terutama bagi warga yang tinggal di tepi pantai dan pelantar,’’ katanya, Minggu (31/7/2016).

Masalahnya, selama ini di sepanjang Sungai Carang dan pelantar, warga terbiasa membuang sampah ke laut.Mulai dari sampah rumah tangga, plastik, botol bekas dan sebagainya. Sampah di laut ini sudah menahun.Saat air air pasang, sampah mengapung sampai ke perumahan warga. Saat air surut, sampah menumpuk di kolong rumah.

Kebiasaan membuang sampah ke laut, menyebabkan sampah bisa datang dari mana saja, terbawa angin dan gelombang.Sampah juga bisa berasal dari kapal yang singgah atau lego jangkar di Sungai Carang. Pemko Tanjungpinang menjanjikan, akan mengoperasikan alat angkut sampah khusus di laut dengan nama taksi sampah.

Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah tidak tinggal diam. Sebab, sampah laut makin memprihatinkan. Terutama di pelantar I, II dan III.Sementara, petugas kebersihan terbatas. Itu sebabnya, wali kota mengajak seluruh pegawai gotong royong membersihkan sampah laut. Namun, tanpa keterlibatan dan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan, bakal sulit membebaskan laut dari sampah.

Harap dicatat, Indonesia merupakan peringkat dua di dunia setelah Cina dalam penghasil sampah plastik ke laut.Inilah peringkat buruk data tahun 2015 negara penghasil sampah ke laut. Yakni China 262,9 juta ton, Indonesia 187,2 juta ton, Filipina 83,4 juta ton, Vietnam 55,9 juta ton, dan Sri Lanka 14,6 juta ton.

Lalu, bagaimana solusinya? Harus ada kesadaran bersama, berhenti membuang sampah ke laut. Mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, tidak membuang sampah di pantai dan di laut, dan jadilah juru kampanye bagi diri sendiri, keluarga dan teman untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dan, tentu saja mendesak pemerintah untuk mengelola sampah di pemukiman, termasuk di tempat wisata dan tepi pantai. Selain itu, gerakan bersih pantai dan sungai secara berkala.

Itulah sebabnya, dalam rangkaian kegiatan Festival Bahari Kepri yang dimulai 20 Oktober 2016, kegiatan pertama yang digelar adalah Eco Heroes.Konsep kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap planet bumi sebagai rumah bersama makhluk hidup. Mendorong dan menginspirasi generasi hijau yang perduli, seberapapun kecilnya, terhadap lingkungan.

Dalam kegiatan Eco Heroes itu, sebanyak 1.500 orang kelompok sadar wisata dari Batam, Tanjungpinang dan Bintan akan berkumpul di Tanjungpinang, perang melawan sampah di laut, berlokasi di Penyengat dan Tepi Laut Tanjungpinang. ‘’Eco Heroes adalah kegiatan pembuka Festival Bahari Kepri,’’ kata Guntur Sakti, Kadis Pariwisata Kepri yang jago nyanyi dan ngemsi itu.

Sebagai ibukota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang memang membutuhkan pahlawan-pahlawan lingkungan.Sehingga, secara ekologis Tanjungpinang menjadi kota yang sehat, hijau dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, sejalan dengan kegiatan Eco Heroes, Tanjungpinang mendeklarasikan kepada seluruh warga kota sebagai eco city. Sehingga, eco-city merupakan kota yang mengurangi beban dan tekanan lingkungan, meningkatkan kondisi tempat tinggal dan peningkatan kota yang komprehensif dan berkelanjutan.

Di masa depan, kita tidak lagi melihat Sungai Carang yang bersejarah itu kotor dan penuh sampah karena dijadikan ‘halaman belakang’ warga yang bermukim di sepanjang sungai, tapi menjadi halaman depan dan beranda. Selain menjaga nilai historis, juga akan menjadi obyek wisata sejarah dan budaya untuk meningkatkan kesejahteraan warga. (bersambung)

 

Advertisements

August 2, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: