Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Menolak Menyerah dan Terus Berenang ke Tepian

“Bang, tolong. Pompong yang saya naiki ini mau tenggelam,” Resti melapor kepada abangnya dari balik telepon. Mesin mati. Air sudah sebetis kaki. Ombak meninggi.

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang

Awan gelap Minggu (21/8/2016) pagi kemarin luput terbaca sebagai pertanda. Yang Resti tahu, ia sedang ingin menyeberang ke Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Bersua dengan sanak-familinya di sana. Akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk bersenang-senang. Rela perempuan 25 tahun ini menyeberang dari Batam ke Tanjungpinang untuk menyambung silaturahim dengan keluarganya.

Pagi-pagi benar. Jam masih menunjuk sekitar pukul 08.30 WIB. Tidak ada matahari. Mendung menggantung sedari dini hari. Air laut berkecipak dan semakin meninggi. Angin berembus tidak teratur. Kadang dari barat ke timur. Resti masih menunggu dengan terpekur.

“Aman ini, Bang kita berangkat?” tanya Resti pada penjual tiket pompong. Yang ditanya lekas menjawab seraya memastikan segalanya aman dan terkendali.

Jawaban yang lumayan menenangkan debar Resti melihat mendung semakin menggantung. Tebal lagi hitam.

Lima belas menit kemudian, bersama 16 penumpang lain, Resti menaiki pompong. Walau terasa ada debar yang tak biasa, keinginannya bertemu keluarga di Penyengat lumayan menenangkan dirinya. Mesin pompong menderu. Ke Pulau Penyengat haluan menuju.

Resti tengadah pasang mata. Melihat ke arah langit yang kian gelap dan rintik hujan mulai berjatuhan. Tidak lama. Hanya lima menit setelah lepas tali dari dermaga, tiba-tiba mesin pompong mati. Lambung terayun ke kanan-kiri. Terbit histeria di kalangan 16 penumpang. Termasuk Resti yang duduk di sebelah kiri. Tekong atau pengemudi pompong mencoba menenangkan.

“Jangan panik. Jangan panik. Pegang bagian atas pompong,” begitu kata Resti mengingat ucapan tekong.

Namun, siapa yang mampu tenang dalam kondisi sedemikian bergoyang. Hujan mulai lebat. Angin barat berembus hebat. Air laut meluap. Masuk ke lambung pompong. Sampai setinggi betis kaki. Kepanikan kian menjadi. Resti segera meraih ponsel. Kepada abangnya di Penyengat ia mengadu.

“Tolong, Bang. Tolong. Kapal yang saya naiki ini mau tenggelam,” ucap Resti beradu dengan histeria penumpang lain dalam pompong.

Sesuatu yang membuat ia gagal mendengar jawaban abangnya di ujung telepon. Seiringan dengan menutup panggilan telepon, angin berembus lebih kencang. Tak henti-henti bibir Resti mengucap pujian dan ampunan pada Tuhan. Lalu angin yang paling keras datang. Melabrak lambung pompong. Dan… pompong terbalik.

Hanya dalam hitungan sepersekian detik, Resti sadar dirinya terancam. Lambung pompong sempurna terbalik. Sisi kanan lambung yang tertutup terpal menyulitkan para penumpang keluar dari situasi mencekam. Setengah kabur setengah berbayang, mata Resti menangkap rongga sisi kanan pompong yang dibiarkan terbuka. Satu per satu penumpang berebut keluar dari ruang sana.

“Berebut-rebut,” ucap Resti.

Perawakan besar Resti ikut membuatnya kian sulit menapak jalur keluar. Sehingga ia pintar-pintar mengatur napas yang tersisa. Sembari menanti ruang itu benar-benar terbuka. Ketika kesempatan itu ada, Resti tidak membuangnya sia-sia. Masih sempat pula, dalam detik-detik semencekam itu, ia menarik lengan seorang kakek berpakaian batik berwarna emas yang masih terjebak dalam lambung pompong yang terbalik.

“Saya orang terakhir ketiga dalam kapal yang berhasil keluar,” ucapnya.

Kepala Resti mencapai permukaan air. Celingukan ke kanan dan ke kiri. Pompong nyaris sempurna karam. Yang ada dalam kepalanya hanya satu; di mana daratan? Kaki-kakinya mulai terasa lemas. Tangannya juga kehilangan daya. Sebisa mungkin Resti bertahan. Ia dan beberapa penumpang lain yang saat itu masih mengapung berteriak meminta pertolongan.

Kepada siapa pun, kepada kapal yang melintas, dan sudah pasti kepada Tuhan. Ada kapal melintas. Melemparkan sebarang dua pelampung. Sayang beribu sayang, tangan Resti tidak sigap menyambar. Hanya seorang laki-laki dan seorang perempuan yang kebagian. Seketika Resti sadar, kini hidup atau matinya bergantung pada sepasang tangan dan kakinya. Berdiam artinya menyerah. Menyerah artinya mati. Resti belum mau mati.

Pada sebarang arah, kaki dan tangan Resti memancal. Samar-samar ia melihat daratan tidak jauh dari tempatnya terapung. Seluruh tenaga dikumpulkan. Resti terus bergerak, terus berenang dengan segenap daya yang tersisa. Getar di badan diabaikannya. Ketakutan yang merajam-rajam diusirnya. Yang Resti tahu, ia hanya mengupayakan yang terbaik yang ia bisa untuk menyelematkan hidupnya.

Tuhan punya kuasa. Keyakinan dan tekad Resti menemui jawabnya. Kaki-kakinya mulai menapak landai pasir pantai. Napasnya satu-satu. Dari kejauhan tim evakuasi yang sudah sedari tadi berjaga di bibir pantai lekas meraihnya. Resti seketika pejamkan mata. Habis tenaganya. Lemas kaki dan tangannya.

Berada di ruang Mawar Nomor 15 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjungpinang, Resti mendapatkan perawatan. Bajunya yang basah kuyup berganti. Selimut melekat di badan. Jarum infus menancap di tangan kanan. Wajahnya masih pucat-pasi. Puji Tuhan tidak henti-henti. Resti sadar atas kuasa-Nya, ia baru terselematkan dari peristiwa mencekam yang merenggut banyak nyawa.

“Saya cuma bisa (mengucapkan) alhamdulillah, Mas,” katanya.

Seberapa mencekam laut Tanjungpinang, pagi kemarin? “Goyang keras kali dalam pompong. Baru sekali itu naik pompong ombaknya bisa seperti itu,” kata Irma.

Irma Sari adalah penumpang pompong dari Penyengat ke Tanjungpinang, kemarin pagi. Bahkan, mahasiswi ini sempat berpapasan dengan pompong nahas yang dinaiki Resti. Sebuah papasan yang, kata Irma, sempat menimbulkan banyak tanya di antara penumpang lain dalam pompongnya.

“Itu kok nekat ya pompong berangkat di cuaca begini,” begitu kata Irma mengingat-ingat percakapan dalam pompongnya.

Irma sendiri juga bukan tanpa tanda tanya. Ketika berpapasan tepat di muka dermaga pelabuhan Sri Bintan Pura, ada seorang lelaki yang nekat berdiri di haluan pompong nahas itu. Irma membatin kenekatannya di tengah angin yang mulai berembus kencang.

Tanda tanya yang sama juga di seputaran dermaga penyeberangan. Irma berkisah, para lelaki yang meriung di dermaga juga mempertanyakan keberangkatan pompong yang mengangkut 17 penumpang (termasuk tekong, red) tersebut. Padahal lunas pompong itu pipih dan sulit membelah ombak ketika pasang.

“Tadi aku dah cakap, tak usah naik. Tapi dia tetap naik pula… ada yang cakap begitu di dermaga,” kata Irma.

Sebarang 10-20 menit kemudian, ketika Irma sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, baru ia mendapat kabar mengenai insiden kecelakaan pompong yang sempat dilihatnya tadi.

“Saya langsung mengucap alhmadulillah. Sekarang sudah tiba di rumah. Walau masih terbayang ngerinya angin laut tadi pagi,” ucapnya.

Geruh tak berbunyi, malang tak berbau. Tapi sebenarnya, segala hal dapat diantisipasi penuh hati-hati. Sekali lagi, awan hitam di langit itu tidak dibaca sebagai pertanda. ***

August 23, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: