Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Selatpanjang Mencekam, Satu Polisi dan Dua Warga Tewas

Warga Kepung Kantor Polisi

AL AMIN, Selatpanjang

Kota Selatpanjang, Kabupaten Meranti, Provinsi Riau, mencekam. Kantor pemerintahan dan pertokoan tutup. Para pelajar dipulangkan lebih cepat. Sementara ribuan massa bergerak dan mengepung markas dan asrama Polres Kepulauan Meranti, Kamis (25/8/2016).

Kejadian berawal dari pembunuhan yang dilakukan oleh Afriyadi Pratama, 24, warga Gang Abadi Jalan Banglas Selatpanjang terhadap seorang anggota Polres Meranti, Aidil, 32.

Peristiwa pembunuhan ini terjadi di halaman parkir Hotel Furama Selatpanjang, Kamis (25/8/2016), sekitar pukul 01.45 WIB.

Polisi berpangkat brigadir itu tewas bersimbah darah setelah ditikam dengan sebilah pisau oleh pelaku.

Korban tewas dengan lima tusukan di bagian dada dan lengan. Belum diketahui motif pembunuhan tersebut. Namun sejumlah saksi mata mengatakan, korban dan tersangka sempat cekcok sebelum peristiwa pembunuhan itu terjadi.

Setelah menghabisi nyawa korban, tersangka Afriyadi sempat melarikan diri dengan menyeberang ke Pulau Merbau. Namun sekitar pukul 03.30 WIB, tersangka berhasil ditangkap polisi dan dihadiahi timah panas di bagian kakinya. Kemudian langsung dibawa ke RSUD Selatpanjang untuk menjalani perawatan medis. Namun saat pagi menjelang, tersangka dipindahkan ke klinik Polres Meranti.

Awak media sempat meminta izin kepada Kapolres Meranti, AKBP Asep Iskandar, untuk menemui Afriyadi guna wawancara, namun tidak dizinkan. Hingga sekitar pukul 09.40 WIB, beredar kabar jika tersangka sudah meninggal di klinik Polres Meranti dan jenazahnya kembali dipindahkan ke RSUD Meranti.

Untuk mengecek kebenaran informasi itu, wartawan koran ini mendatangi RSUD Meranti. Dan ternyata benar, Afriyadi sudah meninggal dan jenazahnya sudah berada di RSUD Meranti. Bahkan Kapolres Meranti, AKBP Asep Iskandar, bersama Sekda Meranti Iqaruddin juga mendatangi RSUD untuk melihat jenazah Afriyadi.

Namun sekali lagi wartawan tidak dibolehkan mengambil gambar jenazah Afriyadi yang merupakan pegawai honorer di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Meranti itu.

Berita kematian Afriyadi ini langsung menyebar. Sehingga dalam hitungan menit, ratusan massa sudah berkumpul di RSUD Meranti. Mereka mengaku tidak terima, sebab beredar kabar, Afriyadi meninggal karena dianiaya polisi saat berada di klinik Polres Meranti.

Massa mulai geram. Sebab tak lama berselang, foto jenazah Afriyadi beredar di media sosial. Kondisinya mengenaskan. Kepala pria yang akrab disapa Adi itu penuh luka memar dan bersimbah darah. Bahkan wajahnya sulit dikenali. Padahal, saat ia dirawat di Klinik Polres Meranti, Adi hanya mengalami luka tembak di bagian kakinya.

Massa kian marah setelah mendengar kesaksian dari sejumlah petugas medis RSUD Meranti. Mereka mengatakan korban menjadi bulan-bulanan sejumlah orang yang diduga polisi. Padahal saat itu kondisi korban sudah tak berdaya.

“Kami sudah melarang mereka supaya korban tidak dihajar lagi. Tapi mereka tak peduli,” ujar seorang petugas medis RSUD Meranti.

Situasi yang mulai panas ini segera ditanggapi forum komunikasi pemerintah daerah (FKPD) Meranti. Danramil Tebingtinggi, Mayor Bismi, bersama Sekda Meranti Iqaruddin, Kapolres Meranti AKBP Asep Iskandar, anggota DPRD Meranti Hafizan Abas, dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Meranti menggelar pertemuan di aula RSUD Meranti. Perwakilan warga diajak serta dalam pertemuan itu.

Namun suasana pertemuan mulai memanas. Massa mengaku tidak terima atas dugaan penganiayaan yang dilakukan polisi terhadap Adi. Ketegangan tak kunjung reda meski Kapolres Meranti berjanji akan mengusut siapa saja yang terlibat dalam penganiayaan terhadap Adi hingga tewas itu.

“Saya bersumpah demi Tuhan, tidak pernah memerintahkan anggota untuk macam-macam, apalagi membunuh. Semuanya situasional anggota di lapangan. Saya berjanji akan mengusut tuntas masalah ini. Tim dari Polda juga dilibatkan,” kata Asep.

Sekitar pukul 11.30 WIB pertemuan tersebut selesai. Namun situasi justru semakin mencekam. Jumlah massa yang berkumpul di halaman RSUD Meranti juga kian banyak.

Tanpa komando, massa yang mulai marah bergerak menuju Mapolres Meranti. Dengan mengendarai sepeda motor, semua massa yang awalnya berkumpul di halaman RSUD Meranti bergeser ke Mapolres Meranti.

Tidak ingin terjadi hal-hal yang lebih buruk, polisi menghadang massa. Pasukan polisi dibagi dalam dua baris. Barisan depan terdiri dari polisi yang membawa tameng dan pentungan. Sementara di barisan kedua, polisi bersiaga dengan senjata laras panjang di tangan masing-masing.

Namun bukanya gentar, hadangan polisi ini justru membuat massa kian beringas. Mereka terus merangsek ke arah pertahanan polisi.

“Kalian pikir kami ini binatang, seenaknya kalian saja. Aparat kok main hukum rimba,” teriak massa.

Suasana semakin panas. Massa mulai melemparkan batu, kayu, dan berbagai benda lain ke arah polisi.

Melihat situasi ini Kapolres bersama Sekda dan Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Ridwan Hasan, mencoba menenangkan massa. Namun massa yang terlanjur emosi tak menggubrisnya. Massa justru kian beringas dan terus mendesak polisi.

Untuk meredam emosi warga, polisi akhirnya memilih mundur. Sebagian polisi bahkan masuk ke dalam Mapolres Meranti.

“Kami minta polisi penganiaya Adi ditunjukkan. Apa kalian mau peristiwa tahun 2001 terulang. Kantor dan asrama polisi kami bakar,” teriak massa, mengancam.

Menjelang sore, massa yang berkumpul di depan Mapolres Meranti semakin banyak. Merasa menang jumlah, massa semakin berani melawan polisi. Mereka terus mendesak masuk ke Mapolres Meranti. Bahkan sejumlah warga ada yang menendang dan memukul polisi.

Melihat massa yang kian tak terkendali, polisi menjadi beringas. Mereka mengeluarkan tembakan membabi buta ke arah kerumunan massa. Hingga akhirnya satu orang warga jatuh terkapar dengan bersimbah darah.

Pria yang belakangan diketahui bernama Isrusli, 41, itu terkapar tepat di depan gerbang Mapolres Meranti. Warga Jalan Dorak, Selatpanjang, ini ternyata tewas dengan luka tembak tepat di dahinya. Pria tiga anak ini diduga tewas terkena peluru dari senjata polisi.

Melihat salah satu rekannya tewas dengan luka tembak, massa mulai mundur. Sebagian segera mengevakuasi jenazah Isrusli. Sementara sebagian lain memilih menjauh dari halaman Mapolres Meranti.

Namun ternyata massa tidak benar-benar membubarkan diri. Tewasnya Isrusli justru membuat amarah mereka kian memuncak. Sekitar pukul 15.00 WIB, massa kembali berkumpul dan memblokir sejumlah jalan. Antara lain Jalan Kartini, Jalan Pembangunan, dan jalan Simpang Sidomulyo.

Sasaran mereka kali ini adalah asrama polisi yang berada di kawasan itu. Namun gerakan massa ini berhasil dihalau oleh aparat kepolisian dengan menembakkan gas air mata dan senjata peluru karet ke arah kerumunan massa.

Massa membalas tembakan polisi ini dengan melemparkan batu dan kayu. Sejumlah sepeda motor yang diduga milik polisi pun dibakar.

Sekitar pukul 17.00 WIB, tiga kompi pasukan Brimob dari Polda Riau tiba di Selatpanjang menggunakan kapal cepat. Mereka segera bergabung dengan jajaran Mapolres Meranti dan berhasil memukul mundur massa.

Menjelang petang, massa akhirnya membubarkan diri. Namun di sejumlah titik masih terlihat ada warga yang berkumpul. Umumnya mereka merupakan pemuda.

Menolak Damai

Sementara itu, kakak kandung Afriyadi Pratama, Nur Afny, mengatakan polisi sempat meminta pihak keluarganya menandatangani surat perjanjian damai. Namun hal itu ditolak.

“Saya akui adik saya pembunuh, tapi harusnya diproses sesuai prosedur. Kami tidak menyangka polisi sekejam itu. Berilah sedikit keadilan,” harapnya.

Dia juga berharap masyarakat untuk tidak lagi mengunggah foto-foto adiknya di media sosial. Terutama foto Adi yang dalam keadaan bersimbah darah.

“Tolonglah jangan tambah duka kami.,” pinta Afny.

Saat berita ini ditulis, jenazah Afriyadi sudah dibawa ke rumah duka. Sedangkan jenazah Isrusli masih berada di RSUD Meranti. Polisi belum memberikan keterangan resmi.

Hingga pukul 19.00 WIB tadi malam, proses mediasi antara Polres Meranti, Pemda Meranti, dan masyarakat masih berlangsung. ***

August 26, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: