Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Ditangkap KPK, Bupati Banyuasin Minta Maaf

Minta Istri Tetap Berangkat Haji

Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Sabtu (4/9/2016), menangkap Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian di rumah dinasnya, Komplek Perkantoran Pemkab Banyuasin, Jalan Lingkar, Sekojo, Pangkalan Balai Banyuasin, Sumatera Selatan.

Saat ditangkap, Yan baru saja menggelar acara walimatus safar atau pengajian untuk keberangkatannya ke tanah suci.

Belum diketahui secara pasti atas dugaan kasus apa dirinya ditangkap. Hanya saja, sumber koran ini menyebutkan Yan diduga tersandung kasus dugaan suap proyek bantuan sekolah menggunakan dana alokasi khusus (DAK) dan bantuan sosial (Bansos) bencana alam senilai Rp 21 miliar.

Informasi yang dihimpun, KPK juga mengamankan sejumlah uang. Hanya saja, berapa nominalnya belum dapat dipastikan.

Tim KPK yang berjumlah 5 orang tidak sendirian dalam penangkapan tersebut. Mereka dibantu oleh tim dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) dan 11 anggota Dalmas Shabara Polda Sumsel bersenjata lengkap.

Selain bupati Partai Golkar itu, KPK juga mengamankan empat orang lainnya. Yakni, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Umar Usman MSi, Kasubag Rumah Tangga Pemkab Banyuasin, Darus. Dua lagi, Taryo (PNS diknas) dan seorang pengusaha (kontraktor), Kirman.

Sebelum menangkap bupati Cs, sehari sebelumnya KPK sudah mengamankan seorang pengusaha bernama Zul. Dia ditangkap di Jakarta. Kuat dugaan terkait kasus yang sama.

Plh Kabiro Humas KPK, Yuyuk Andriati membenarkan penangkapan tersebut. Namun, dia tak merinci jumlah orang yang ditangkap. Terkait kasus apa, termasuk berapa nominal uang dan barang bukti sapa saja yang diamankan.

“Benar hari ini (kemarin, red) ada OTT di Sumatera Selatan. Mengenai siapa, berapa orang dan kasusnya apa? Akan diumumkan besok (hari ini, red),” kata Yuyuk.

Bagaimana penangkapan itu sendiri? Informasi yang dihimpun Sumatera Ekspres, saat penangkapan, hajatan keberangkatan (walimatus Safar) Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian SH bersama sang istri Vinita Citra Karini SE MSi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, Rabu (6/9/2016) mendatang, selesai digelar.

Para tamu undangan, baik itu pejabat di lingkungan Pemkab Banyuasin serta unsur muspida lainnya, sebagian sudah pulang. Hanya pejabat dekat, salah satunya Sekda Firmansyah masih berada di rumah dinas. Di samping, orang tua Yan yang mantan Bupati Banyuasin Amiruddin Inoed.

“Usai menyalami bupati, banyak yang sudah pulang,” ujar sumber koran ini.

Sekitar pukul 13.00, rombongan KPK dan Polda Sumsel dengan senjata lengkap datang sekitar 4 mobil ke rumah dinas Bupati Banyuasin tersebut. Mereka langsung memarkirkan mobilnya tepat di halaman depan rumdin.

Beberapa orang masuk ke rumdin. Bertemu dengan Bupati. Beberapa menit kemudian, Bupati Yan Anton, Sekda Banyuasin Dr Ir Firmansyah Msc, Drs H Kadisdik Umar Usman Msi, serta Kasubag Rumah Tangga Darus langsung diamankan dalam mobil terpisah.

“Langsung dibawa ke Palembang,” ujar sumber koran ini. Melihat hal itu, para tamu undangan yang masih berada di acara hajatan itu, hanya dapat menyaksikan hal tersebut.

“Kita hanya melihat saja, seakan – akan tidak percaya,” imbuhnya.

Selama acara hajatan, tambah sumber tadi, Kadisdik Banyuasin Umar Usman terlihat duduk di belakang. Wajahnya tegang dan gelisah.

“Seperti ada masalah,” ujarnya. Keluarga besar bupati Banyuasin yang ada di rumdin itu hanya terpana dengan kejadian itu. Mulai dari orang tua Amirudin Inoed, sang istri dan kerabat lainnya.

Diketahui, Bupati Yan Anton beserta istri akan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci 6 – 22 September mendatang. Bupati sendiri dipastikan batal melaksanakan rukun Islam kelima itu. Begitu juga istrinya.

“Kalau ibu (Tita, red) mendampingi Pak Yan saat dibawa KPK,” ujar kerabat dekat Yan tadi malam. Yan Anton sempat pamit dengan istrinya sambil membawa tas ransel. Yan minta istrinya tetap berangkat haji sendirian.

Saat Yan Anton pergi bersama tim KPK, istrinya Tita langsung menangis.

“Ibu (Tita) memastikan batal berangkat haji,” kata kerabat Yan tadi. Sekarang ini, lanjutnya, pihak keluarga mengkhawatirkan kesehatan ayah kandung Yan Anton, yang juga mantan BUpati Banyuasin Amiruddin Inoed.

“Pak Amir belum tahu kalau anaknya sudah dibawa ke Jakarta. Keluarga belum kasih kabar karena khawatir kondisi kesehatan makin buruk. Pak Amir baru pulih dari sakit,” tandasnya.

Pantauan di lapangan, rumah dinas Bupati Banyuasin hingga pukul 19.00 terlihat sepi. Hanya ada petugas satpol PP yang berjaga.

“Bapak sudah ke Palembang,” kilah mereka.

Yan Anton dan kawan-kawan, tiba di Mapolda Sumsel sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka langsung diperiksa di Ditreskimsus Polda Sumsel. Setidaknya, ada 6 mobil yang berjejer di halaman Ditreskrimsus.

Satu di antaranya mobil tim KPK. Yakni Kijang Innova warna hitam nopol B 1344 NKE. Kemudian, 6 mobil lainnya, yaitu Innova abu-abu nopol BG 1862 KI. Lalu, Kijang warna hijau nopol BG 1350 ML, Honda Brio hitam BG 85 VB, Ford putih BG 9014 PP, Xenia silver BG 1654 CC.

Lebih dari 3 jam Yan Anton diperiksa di gedung Ditreskrimsus Polda Sumsel. Barulah sekitar pukul 17.15 WIB, langsung di bawa menuju bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang untuk diterbangkan ke Jakarta.

Saat menuju bandara, Yan Anton yang saat itu mengenakan kemeja kotak-kotak warna kombinasi garis hitam-merah-putih, diangkut dengan mobil bus coklat nopol 6009-15 milik Mapolda Sumsel. Juga dikawal 2 mobil Patwal Polresta Palembang, masing-masing nopol 4012-30 dan 4021-12. Serta 11 angota Dalmas Shabara Polda Sumsel bersenjata lengkap.

Nampak, Direktur Reskrimsus Polda Sumsel Kombes Pol Tomsi Tohir dan Kasubdit Tipikor AKBP Hari Barata, juga ikut dalam bus tersebut. Namun, tak ada sama sekali penjelasan dari Tomsi.

“Ini kewenangan KPK. Biar KPK yang mengungkapnya. Kami dari Polda hanya membantu back up saja,” kata Tomsi.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Djarod Padakova juga tidak berkomentar banyak. Menurut Djarod, dari KPK memang minta bantuan Polda untuk kegiatan KPK di Banyuasin.

“Kami sebatas back up pengamanan, maupun pengamanan tempat dalam menjalankan tugasnya. Tindakan lain diserahkan ke KPK,” kata Djarod.

Yan Anton sendiri tidak mau berbicara banyak. Sambil melempar senyum, dia hanya mengatakan kata “maaf ya” sebanyak 3 kali. Kemudian, langsung naik mobil dengan pengawalan ketat Dalmas Shabara.

Selama pemeriksaan, nampak juga Sekretaris Daerah Pemkab Banyuasin Firmansyah. Namun, dirinya mengaku tidak diperiksa dan tidak dibawa ke Jakarta.

“Saya mendampingi saja,” kata Firmansyah.

“Ini musibah. Semoga permasalah ini cepat selesai. Saat ini, saya harus segera kembali ke Banyuasin agar roda pemerintahan sehari-hari tetap berjalan, ” katanya.

Firmansyah mengaku tidak mengetahui permasalahan apa yang menimpah bupati. Termasuk berapa orang yang ditangkap, dia juga mengaku tidak tahu.

“Saya benar-benar tidak tahu,” tukas Firmansyah sambil berlalu.

Sementara, di rumah pribadi Yan Anton Ferdian d Komplek Bukit Sejahtera (Poligon) blok BD, sekitar pukul 16.00 wib hingga mendekati Magrib, terlihat beberapa petugas Sat Pol-PP sedang berjaga. Di dalam pagar rumah, atau duduk di pinggir jalan. Tiga mobil berada di luar, satu di dalam.

Dua petugas Pol-PP yang tengah berada di luar mengungkapkan, benar jika Bupati Banyuasin Yan Anton, pagi kemarin baru saja melakukan sedekah, jelang keberangkatan haji.

“Tapi sedekahnya itu, dilakukan di Balai (Pangkalan Balai,red), bukan disini,” bebernya. (vis/win/tim/jpgrup)

September 9, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: