Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

372 Rumah Gadang di Solok Selatan Rusak

Perlu Upaya Penyelamatkan Rumah Adat

Sebanyak 372 rumah gadang di Kabupaten Solok Selatan mengalami kerusakan. Dari rusak ringan, sedang dan berat. Perbaikan rumah gadang tersebut terkendala anggaran.

Pantauan Padang Ekspres di sejumlah daerah di Solsel, dari 591 unit rumah gadang yang tersebar di tujuh kecamatan sudah banyak mengalami kerusakan, bahkan satu persatu sudah roboh.

“Perbaikan rumah gadang butuh dana besar, namun untuk pelestarian ini, persukuan di daerah tak punya anggaran, sehingga dibiarkan saja roboh. Kayu sulit, apalagi biaya pelestariannya,” ujar salah seorang niniak mamak di Sangir, Zulkarnain Dt Pintu Basa kepada Padang Ekspres, Minggu (18/9/2016).

Ia berharap, adanya peran pemerintah dalam pelestarian cagar budaya tersebut. Apalagi Solsel populer dengan kawasan seribu rumah gadang. Menurutnya, perlu ada upaya penyelamatkan rumah adat yang terancam punah ini.

“Rumah gadang kami, suku malayu koto kaciak juga rusak parah, namun sudah kami perbaiki sebagian kecil. Di suku lainnya, ada yang sudah roboh rumah gadang pasukuannya. Ini, terkendala anggaran perbaikan,” tukas mamak pasukuan Malayu Koto Kaciak itu.

Di kawasan wisata budaya seribu ruamah gadang, rumah gadang suku Bariang juga terancam punah. Baik atap, dinding, lantai, serta tangga rumah gadang yang dibangun dengan kayu juga sudah keropos.

Sebab, anggaran dana untuk satu unit rumah besar miliaran rupiah. Namun, dana sebesar itu sulit terkumpul persukuan. Dan mustahil bisa terkelola dan terkumpul dana sebesar itu. Maka, peran Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Budaparpora) sangat penting. Sehingga cagar budaya di daerah ini bisa diselamatkan dari kepunahan.

“Kami (DPRD,red) siap memperjuangkannya. Dan segera bicarakan dengan dinas terkait. Kendala perbaikan selama ini tentang apa,” sebut Raymond Anggota DPRD Solsel yang juga tokoh masyarakat setempat.

Terpisah, Kasi Museum dan Purbakala Dinas Budparpora Solok Selatan, Syafriantik menyebutkan, saat ini rumah gadang yang tersisa di Solsel sebanyak 591 unit. Di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD) 57 unit, Sungaipagu 332 unit, dan Pauhduo 43 unit, Sangir 39 unit, Sangirjujuan 34 unit, Sangir Balai Janggo 18 unit dan Sangir Batang Hari sebanyak 68 unit.

“Kondisi terkini rumah gadang tersebut, sebanyak 219 unit kondisinya baik. Rusak ringan 115 unit, rusak sedang 136 unit, dan rusak berat sebanyak 121 unit. Kita terkendala anggaran perbaikan, sehingga belum bisa melestarikannya,” ujarnya.

Dia menyebutkan, bila dilihat jumlah rumah gadang yang perlu perbaikan. Seperti di Kecamatan KPGD, sebanyak 8 unit rusak ringan, 21 unit rusak sedang, dan 7 unit rusak berat.

Di Sungaipagu 152 unit baik, 51 rusak ringan, 62 unit rusak sedang, dan rusak berat 56 unit. Di Pauhduo, 14 unit baik, 5 rusak ringan, 6 sedang, 18 unit rusak berat. Sedangkan di Sangir, 4 unit baik, 12 rusak ringan, 4 rusak sedang, dan 19 unit rusak berat. Di Sangirjujuan, 3 unit baik, 16 rusak ringan, 7 rusak sedang, dan 8 unit rusak berat. Kemudian di Sangir Balai Janggo 2 unit baik, 4 rusak ringan, 7 rusak sedang, 5 rusak berat. Dan Sangir Batang Hari 12 unit baik, 19 rusak ringan, 29 rusak sedang, 8 unit rusak berat.

“Dari 591 unit rumah gadang yang terisa di Solsel, yang sangat membutuhkan anggaran dana sebanyak 121 unit. Bila dikalkulasikan, kebutuhan anggaran capai triliunan rupiah. Sebab, rumah gadang ini banyak ruangan, rata-rata cukup panjang,” katanya.

Ditambahkan Ninik Mamak Abai Sardi Dt Simajo, nasib rumah gadang terpanjang di dunia dibawah naungan pasukuan Malayu Sigintiu kian terancam punah. Rata-rata dinding bagian belakang rumah terpanjang itu sudah berlobang.

“Begini nasib rumah gadang kami. Sisi dalam rumah gadang 21 ruang, dan atap 15 gonjong dengan panjang 95 meter. Bila diperbaiki, butuh dana sekitar Rp1 miliar. Suku kami belum sanggup menyiapkan dana sebesar itu,” sebutnya.

Cagar budaya yang dibangun tahap dua tahun 1972, sudah rusak parah. Bahkan atap sudah tiris. Dibangun secara gotong- royong oleh 14 kaum persukuan yang ada di daerah itu. Satu gonjong sebagai lambang rumah gadang terpanjang dan pusat perundingan niniak mamak. Dan 14 gonjong lain melambangkan jumlah kaum pasukuan yang ada di Abai.

“Dulu beratap ijuk, dan tiang-tiangnya memakai pasak kayu. Dinding terbuat dari bambu yang sudah disulam erat. Ruang kamar tidur dibangun menggunakan sekat-sekat pembatas, juga terbuat dari apit bambu dan kayu,” sebutnya.

Peranan Pemkab Solsel dan DPRD Solsel untuk melestarikan warisan cagar budaya ini, penting. Karena hanya Solsel yang memiliki satu-satunya rumah gadang terpanjang di Sumbar, bahkan di dunia.

“Saat ini baru sekadar terpopuler sabagai rumah panjang, namun kondisinya memprihatinkan,” papar tokoh masyarakat setempat, Mahyunar Chatib Ipi. (tno)

Advertisements

September 18, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: