Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Ketika Suku Anak Dalam Menginap di Mapolsek Kuranji Padang

Buang Sial karena Keluarga Meninggal, Rela Jalan Kaki dari Sumbar Hingga Riau

Seringkali adat sebagai aturan yang mengikat bagi suatu suku maupun ras tertentu membuat pengikutnya tunduk dan patuh untuk menjalan tradisi yang sudah dijalankan secara turun-temurun. Meski bagi banyak orang menganggap tradisi adat suatu kelompok dipandang aneh dan tabu. Namun bagi mereka yang namanya tradisi harus tetap dijalankan hingga saat ini.

Buang Sial : Sebanyak 24 orang suku anak dalam Jambi tidur pulas, saat menumpang tidur di parkiran Polsek Kuranji (21/09) Kec. Kuranji,Padang, setelah berjalan kaki dari kampung halamannya 40 hari lalu. Mereka harus berjalan kaki selama 100 hari lamanya, ini bagian tradisi adat mereka, untuk membual sial, karena salah satu keluarga mereka meninggal dunia/ Sy Ridwan/Padang Ekspres

Kelompok Suku Anak Dalam tidur pelataran parkir Polsek Kuranji, Padang, Rabu (21/9/2016) malam. SY Ridwan/Padang Ekspres

Dalam hal menghilangkan rasa kesedihan atau buang sial, adat berjalankan kaki meningggalkan tempat tinggal menelusuri wilayah yang sangat jauh harus dilakukan. Hal itu merupakan salah satu adat yang masih dianut dan dijalankan oleh suku anak dalam (SAD), atau yang lebih dikenal dengan orang kubu.

Akibat meninggalnya salah seorang keluarga mereka, kelompok suku anak dalam itu harus berjalan menelusuri Sumbar, Riau dan Jambi. 24 orang suku anak dalam itu yang terdiri dari 4 pria dewasa dan 6 wanita dewasa serta anak-anak kisaran umur 2-8 tahun dan semuanya itu masih dalam satu keluarga besar.

SAD ini berasal dari Muaro Bungo itu rencananya akan melangkah menuju Kiliran Jao dan kembali ke Muaro Bungo melalui Solok , Bukitinggi, Bangkinang hingga Kiliran Jao. Langkah ratusan Kilometer itu harus mereka jajaki. Dan sekarang selama 40 hari semenjak keberangkatan mereka baru berada di Padang.

Rabu (21/9/2016) malam mereka ditemukan oleh pihak Polisi Sektor (Polsek) Kuranji Padang dan bermukim di pelataran parkir kantor tersebut. Salah seorang SAD bercerita tradisi ini sebagai bentuk pelepas kesedihan yang mengharuskannya meninggalkan pemukiman selama tiga bulan.

Nenek dari Kholija, 40 salah seorang keluarga SAD yang melakukan tradisi adat itu, telah meninggal dunia beberapa waktu lalu, hingga kesedihan bagi keluarga besar tidak terbendung. Sesuai dengan tradisi SAD maka mengharuskan mereka untuk pergi untuk beberapa waktu.

Membawa perlengkapan seadanya seperti selimut, parang , peralatan masak. Untuk masalah makanan sehari-hari selama perjalan mereka mengandalakan pemberian dari warga di daerah yang dilewatinya.

“Alhamdulilah, masyarakat ado yang bantu, dari pado kito maling lebih baik mintak. Asalkan kito baik orang juo akan sayang,” ucap wanita 5 anak itu.

Yang pasti bagi mereka walaupun membawa anak-anak kehati-hatian adalah hal yang utama.
“Yang jelas kito hati-hati kareno dijalan banyak motor dan kendaraan,” sebutnya.

Diceritakannya SAD tersebut, mereka merupakan keturunan dari orang Batusangkar tepatnya Kubukerambil, karena pada zaman penjajahan dahulu orang tua-tua mereka pergi menyelamatkan diri ke Jambi dan hidup berkembang di provinsi itu. Hidup dalam hutan dan makan apa yang diperoleh dari hutan itu sendiri.

Dalam melakukan perjalanan itu sering kali mereka harus capek dan tidak memaksakan untuk terus berjalan. Anak-anak hal yang selalu menjadi perhatian mereka untuk melangkah dan tidak membiarkan mereka untuk sangat kelelahan.

Dalam mentukan arah selama perjalanan bagi SAD memiliki kepala regu yang sudah pernah melakukan tradisi sehingga bagi mereka tidak ada kendala untuk menentukan arah dan langkah yang akan dituju. Dalam perjalan itu mereka hanya melakukan perjalan pada siang hari dan beristirahat jika malam datang.

Hampir dari setiap daerah yang dilalui mereka ditanggapi masyarakat dengan kasihan dan memberikan makanan.

“Kito jarang masak, karano ado masyarakat yang sayang pado kito dan kasih nasi bungkus, uang dan makanan, anak-anak iko kalau udah jajan ndak nio lai makan,” ungkap kholija yang memiliki 5 anak itu.

Kholija juga menyebutkan meski tidak semua anaknya ikut serta dalam perjalan itu karena tiga orang anaknya telah bersekolah dan tidak bisa ikut. Sehinggga bagi mereka tidak memaksakan seluruh keluarga besarnya untuk berangkat meninggalkan tempat tinggalnya.

Di samping itu, salah satu keluarga Kholija juga sudah ada bekerja di jambi dan berkuliah di Yogyakarta.

“Aku nionyo anak aku untuk bisa sekolah dan bekerja. Walau anak-anak kito itu ado yang sudah bekerja dan jarang pulang namun inyo tetap ado pulang membawakan beras dan makanan,” sebut Kholija.

Perangko, sebagai orang yang dituakan juga bercerita melangkah itu tidak harus cepat sampai namun melangkah perlahan dan pasti. Jika malam telah sampai mereka akan mencari tempat untuk bermalam dan berteduh. Bisa di depan toko warga maupun dipelataran parkir.

Dia menyebutkan harapannya untuk bisa selamat kembali ke tempat asal mereka di Muaro Bungo. Bagi mereka tradisi buang sial itu harus terus dilakukan hingga kapanpun. dan sampai di Muaro Bungo kembali dalam keadaan sehat. “Iko memang alah tradisi kito dan kito melakukannyo, semoga sajo kito selamat dan terus hati-hati di jalan,” harap Perangko menantu dari mertuanya yang meninggal tersebut.

AIPTU Prayitno, Waka Jaga Polsek Kuranji meneyebut kedatangan SAD ke kantor tersebut dan meinta untuk istrhat. Sehingga sebgai tamu pihak kepoliasn memberikan izin dan mempersilahkannya.

Di samping itu Kepolisian juga memberikan makan untuk santap SAD. Dari penuturan SAD kepada Polsek Kuranji rencananya SAD akan melangkah menuju Bangkinang, lipat Kain Kilran Jao.

“Tadi sesuai mutasi piket siang kita terima kedatangan mereka (SAD, red) pada pukul 18.00 WIB. Kita persilahkan untuk istrahat dan memberi mereka makan, dan Rencananya SAD itu akan melanjutkan perjalan mereka pada pagi harinya,” sebutnya. (cr17)

Advertisements

September 22, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: