Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Suharto, Pedagang Daging di Pasar Ibuah Payakumbuah

46 Tahun jadi Tukang Jagal, Temukan Kerbau Berkepala Dua

Seorang pedagang daging di Pasar Ibuah, Payakumbuh, mendadak tenar di media sosial. Ini terjadi setelah induk kerbau bunting yang dibelinya dari seorang toke asal Batuampar, Kabupaten Limapuluh Kota, mengandung anak kerbau berkepala dua. Lantas, dimana fosil kerbau langka itu kini berada?

FAJAR R VESKY, Payakumbuh

Duduk di los daging Pasar Ibuah Timur, Suharto alias Totok, 57, nampak serius membaca koran.

Saat ditemui seorang reporter, ia sedikit was-was, mungkin juga trauma.

‘‘Dulu, pernah ada yang datang memoto-moto di sini. Tak tahunya, berita yang keluar di koran, daging sapi di Pasar Ibuah, dicampur daging babi. Padahal, tidak ada saya mencampurnya, ujar Totok, (30/9/2016).

Totok sengaja didatangi ke Pasar Ibuah, setelah namanya mendadak tenar di media sosial, karena menemukan anak kerbau berkepala dua.  Anak kerbau langka itu ditemukan Totok, saat menyembelih seekor induk kerbau di Rumah Potong Hewan (RPH), Ibuah, Rabu (28/9/2016).

Selain berprofesi sebagai pedagang daging, Totok sehari-hari juga terlibat sebagai tukang jagal di rumah potong hewan.
Aktifitas ini, sudah dilakoninya sejak 46 tahun silam.

‘‘Sudah 46 tahun, saya bergelut dengan daging. Mulai dari membantai, sampai menjualnya,’’ kata Totok yang berasal dari Kampung Ladanglaweh, Padangpanjang, Kabupaten Tanahdatar itu.
Selama 46 tahun menjadi tukang jagal dan pedagang daging, Totok mengaku, baru sekali menemukan anak kerbau berkepala dua.

‘‘Sebelum menemukan kerbau berkepala dua itu, saya tidak bermimpi apa-apa. Juga tidak punya firasat yang aneh-aneh,’’ ucap pria berambut ikal ini.

Totok menuturkan, sebelum menemukan anak kerbau berkepala dua, dia membeli seekor induk kerbau seberat 190 kilogram dari seorang toke ternak asal Batuampar, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota. Toke yang dipanggil Uda Is oleh Totok itu menjual induk kerbau dalam kondisi lemas karena hendak melahirkan.

‘‘Waktu dijual kepala saya, induk kerbau tersebut dalam keadaan sangat lemas dan tidak bisa mengejan anaknya. Udaa Is yang membeli kerbau itu dari peternak di Suayan, tentunya tidak mau kerbaunya mati sia-sia. Karenanya, Uda Is menjual kepada saya. Untuk saya sembelih di rumah potong,’’ kata Totok. Akan tetapi, saat menuntun induk kerbau itu ke rumah potong, Totok bersama para pekerjanya, ragu pula untuk menyembelih. Karena di rahim induk kerbau, sudah keluar separuh badan anaknya. Lantaran itu pula, Totok mendatangkan manteri hewan, untuk memeriksa kondisi induk kerbau tersebut.

‘‘Waktu diperiksa manteri hewan dan pekerja saya, memang ada sesuatu yang janggal di rahim induk kerbau tersebut. Seorang pekerja saya memperkirakan, induk kerbau tidak bisa mengejan, karena anaknya berkepala dua. Saya masih ragu. Kami berupaya, agar induk kerbau itu bisa melahirkan. Namun karena kondisinya semakin lemas dan takut mati sia-sia, kami putuskan untuk menyembelihnya,’’ kata Totok.

Begitu disemblih, induk kerbau langsung dikuliti. Setelah itu, bagian rahimnya dibedah ulang. Dari sanalah, ditemukan anak kerbau berkepala dua. Anak kerbau berkelamin jantan itu ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

‘‘Kami kaget melihatnya. Subhanallah. Allah benar-benar Maha Besar,’’ kata Totok.

Tidak lama berselang, Totok dan tukang jagal di Rumah Potong Hewan Ibuah, berunding. Mereka akhirnya sepakat, membawa bangkai anak kerbau berkepala dua ke kantor Dinas Peternakan.

‘‘Tujuan kami untuk pengawetan (dijadikan fosil yang diformalin). Tapi untuk pengawetan ini, orang dinas meminta uang sebanyak Rp10 Juta,’’ kata Totok.

Saat ini, menurut Totok, anak kerbau berkepala dua itu sudah berhasil diawetkan. Fosilnya berada di kantor Dinas Peternakan. Soal berapa biaya akhir yang dikeluarkan, Totok tidak memberi penjelasan.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Payakumbuh Depi Sastra yang dikonfirmasi wartawan menyebutkan, fosil anak kerbau berkepala dua yang ditemukan tukang jagal di RPH Ibuah, saat ini berada di kebun binatang (Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan) Bukittinggi.

‘‘Saya juga mau meluruskan, pemberitaan yang muncul beberapa hari lalu. Saya pribadi, baru tahu ada anak kerbau berkepala dua, setelah beritanya muncul di media-massa. Saya tanya kepada kawan-kawan petugas, mereka menyebutkan, uang Rp 10 Juta itu diminta untuk biaya pengawetan. Karena kita di dinas, memang tak punya anggaran untuk pengawetan itu. Sekarang, anak kerbau berkepala dua itu sudah dibawa ke kebun binatang Bukittinggi. Apakah masih di sana, saya belum mengeceknya,’’ kata Depi Sastra. ***

October 5, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: