Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Mahasiswa Politeknik Negeri Batam Buat Game Gonggong in the Sky

Gratis, Dalam Sepuluh Hari Diunduh 50 Kali

Oleh Float id, gonggong tak lagi hidup di laut. Mereka membawanya terbang ke udara melalui game Gonggong in the Sky. Dalam sepuluh hari, game ini sudah 50 kali diunduh di Google Play Store

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Belum ada satu menit Iyan memainkan game itu ketika ia mendadak berseru, “Game-nya bikin emosi, Wak!” Arif hanya senyum-senyum saja melihat temannya kesal. Sepertinya banyak juga yang berkomentar sama.

Game yang Iyan mainkan itu berjuluk Gonggong in the Sky. Sang pemain harus mengantarkan arwah gonggong ke nirwana dengan selamat. Ia harus menghindari awan berpetir. Jika tidak, gonggong itu akan tersambar petir dan permainan berhenti.

Iyan menggoyang-goyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Begitulah caranya untuk menggerakkan gonggong tak menyentuh awan berpetir. Jempol kanannya mengetuk-ngetuk layar ponsel untuk memastikan gonggong itu masih tetap ‘terbang’.

Tak lama kemudian, Iyan menyerah. Mengembalikan ponsel pada sang empunya, Arif, sambil masih bersungut-sungut. Tiga kali main, semuanya berakhir dengan cepat.

“Sampai kapan main seperti itu?” tanyanya, Minggu (16/10/2016).

“Ada levelnya. Semakin sulit levelnya, semakin sempit awannya menghimpit,” jawab Arif sambil menerima ponselnya lalu menyimpannya di saku tas.

Game Gonggong in the Sky itu dirilis 5 Oktober lalu di Google Play Store. Sepuluh hari kemudian, jumlah pengunduh telah mencapai 50. Game itu bisa diunduh tanpa bayar.

Game jenis permainan arkade itu buatan Float id. Itu nama perusahaan start up yang Arif bangun bersama dua temannya, Nur Mahfud dan Sri Astuti. Keduanya sama-sama mahasiswa Politeknik Negeri Batam. Nur Mahfud dan Arif sama-sama berasal dari Program Studi Teknik Informatika dan Jaringan. Sementara Sri Astuti menuntut ilmu di Program Studi Akuntansi.

Ini game keempat yang berhasil mereka buat sejak aktif pada bulan Mei lalu. Dua game merupakan game pesanan dari sebuah partai. Sementara satu game lainnya game perdana yang mereka luncurkan sebulan setelah Float Id. Namanya, ‘Bisa Jadi’.

“Pernah nonton Eat Bulaga!? Game ‘Bisa Jadi’ terinspirasi dari acara tv itu,” tutur pemilik nama lengkap Arif Muspita itu lagi.

Sejak dirilis di bulan Juni lalu, game itu sudah diunduh hingga 1.200 unduhan. Berbeda dari Gonggong in the Sky, Bisa Jadi berbentuk kuis, bukan tipe arkade.

Float id didirikan sebagai sebuah perusahaan pengembang game. Pendiriannya digawangi dari program wirausaha mandiri (PWM) di kampus Politeknik Batam. Seluruh mahasiswa boleh mengikutinya. Caranya dengan mengirimkan proposal pengajuan dana ke kampus.

Awalnya, Arif hanya seorang diri. Di kemudian hari, Nur Mahfud mengontaknya dan mengatakan, idenya itu bisa diperbesar. Keduanya pun berkolaborasi dalam membuat game. Arif bertugas membuat alur cerita game. Sementara Nur membuat interface atau rupa karakter game.

Mereka lalu mengajak serta Sri Astuti. Satu-satunya perempuan dalam kelompok itu bertugas mengatur keuangan. Ketika proposal pertama tembus, mereka mendapat dana tunai kurang dari Rp 5 juta. Dana itu digunakan untuk promosi. Membuat google adsense dan membeli akun di Google Play Store.

“Uangnya diputar untuk itu. Jadi kami masih juga dapat uang meskipun game-game yang kami buat masih gratis,” tutur pria kelahiran Batam, 12 Februari 1994 itu lagi.

Arif memilih usaha sebagai pengembangan game karena di Batam, usaha itu masih sangat kurang. Ada satu, katanya. Tapi sangat berorientasi ke bisnis. Float id tidak ingin seperti itu. Karena artinya, hanya orang yang punya uang yang bisa bermain game itu. Ia ingin, game buatannya bisa dimainkan banyak orang.

Seperti layaknya float dalam sebuah minuman jus. Float yang sejenis es krim itu memiliki rasa yang manis dan tampilan menarik hingga kemudian banyak disukai orang.

“Kami ingin seperti itu. Motto kami: tasty, fresh, many people like – manis, segar, dan disukai banyak orang,” katanya.

Dalam satu tahun, mereka menargetkan untuk membuat enam game. Dua game lagi maka target itu tercapai. Meski deadline satu tahun itu jatuh di bulan Mei tahun depan.

Tapi, pekerjaan tidak hanya berhenti di situ. Mereka ingin mengembangkan game tersebut. Game Gonggong in the Sky itu akan menjadi proyek perdana untuk dikembangkan. Mereka ingin membuat game itu bisa menghasilkan uang.

“Ada beli sesuatunya. Beli nyawa, misalnya,” tuturnya lagi.

Selama ini, penghasilan mereka murni dari iklan-iklan yang disematkan dalam game. Semakin banyak game itu diunduh, semakin banyak iklan itu tayang. Alhasil, semakin banyak juga uang yang masuk kantong mereka.

Namun, tujuan utama mereka bukanlah uang. Tetapi karya. Mereka ingin terus berkarya untuk negeri. Lantaran keahlian mereka itu ada pada bidang teknik informatika dan jaringan, mereka berkarya melalui game.

Sayang, terlalu banyak orang yang meng-kambing-hitam-kan game dan pemain game. Bahwa bermain game itu buruk. Bermain game itu bisa merusak otak. Padahal, tidak seperti itu.

“Saya tidak ingin game dikambing-hitamkan. Karena kami ini berkarya. Berkarya untuk negeri,” katanya.

Sejak awal didirikan, ketiganya berniat mengangkat wilayah Kepri dalam proyek-proyek Float id. Itu juga yang menjadi satu alasan mereka membuat Gonggong in the Sky. Awalnya, game itu mereka namai Ghost in the Sky.

“Tapi karena berawalan G, kami berpikir lagi apa yang cocok. Lalu tercetuslah gonggong itu,” masih kata Arif.

Gonggong merupakan sejenis siput laut yang banyak ditemukan di wilayah perairan Kepulauan Riau. Gonggong kemudian dijadikan bahan masakan. Hampir tidak ada rumah makan seafood yang tidak menampilkan gonggong rebus dalam menunya.

Gonggong sudah menjadi kuliner wajib wisatawan yang datang ke Kepri. Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau pernah mengangkatnya menjadi ikon kuliner Kepri dengan membuat lomba masak gonggong massal. Lomba itu menghasilkan aneka makanan olahan gonggong. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai sebuah rekor.

“Saya dan tim yang merancang game ini berharap game ini dapat berperan dalam menyukseskan program Kepri Go Digital,” ujarnya. ***

October 16, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: