Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Miliki Jurusan Langka dan Dibutuhkan Dunia Industri 

Politeknik Negeri Batam

PERGURUAN tinggi pertama di Kepri, Politeknik Negeri Batam merupakan tempat belajar favorit di Kepri. Hampir semua putra-putri dari kota dan Kabupaten se Kepri masuk di sekolah ini. Bukan hanya itu, Politeknik juga mempunyai mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Lembaga pendidikan ini juga menjadi satu-satunya Politeknik yang di luar Jawa yang mendapat Authorized Maintenance Training Organisation (AMTO, atau lembaga pelatihan teknisi perawatan pesawat terbang bersertifikat) dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), untuk memberikan serifikasi basic lisence kepada lulusan D3 Teknik Perawatan Pesawat Udara.

SUPRIZAL TANJUNG, Batam

politeknik-negeri-batam-terbit-minggu-5-februari-2017-b-image-3

Meraih AMTO ini satu prestasi dan kegembiraan bagi masyarakat Batam, dan Kepri pada umumnya.

‘’Tidak semua Politeknik mendapatkan AMTO ini. Ini jurusan langka. Ini adalah langkah positif dan besar untuk terus memajukan Politeknik Batam ke depannya,’’ sebut Direktur Politeknik Negeri Batam, DR Ir Priyono Eko Sanyoto DEA di Kampus Politeknik Negeri Batam, Jalan Ahmad Yani, Batam Kota, Batam, Jumat (26/1/2017).

Di tingkat nasional, Politeknik Batam adalah satu dari 12 Politeknik Negeri yang diperkuat melalui Program Revitalisasi Politeknik secara nasional mulai 2017. Dalam program tersebut diusung dua prodi unggulan yaitu Elektronika Manufaktur dan Perawatan Pesawat Udara. Elektronika Manufaktur dilengkapi dengan fasilitas fabrikasi skala mini berupa Teaching Factory Manufacturing Electronics di bidang IC Packaging, PCB Manufaturing dan PCB Assemby yang mendukung industri mikroelektronika nasional. Sementara bengkel Perawatan Pesawat Udara menjadi tempat pendidikan bagi para calon teknisi berlisensi internasional dalam perawatan pesawat terbang.

Ini adalah prodi langka dimana Politeknik menjadi bengkel pesawat latih yang biasa digunakan untuk latihan pilot. Kemenhub sudah memberikan AMTO kepada Politeknik untuk menggelar pendidikan bersertifikat. Di Indonesia hanya ada dua perguruan tinggi yang saat ini mendapat AMTO yaitu Politeknik Negeri Batam, dan Politeknik Negeri Bandung.

Jika ada pendidikan perawatan pesawat, tentu harus ada bengkel. Itu pasti. Bengkel pesawat membutuhkan tenaga tersertifikasi AMTO. Dunia penerbangan mempunyai karakter safety-priority and full-regulated, sehingga semua diatur dengan sangat ketat organisasi internasional. Ini membuka kesempatan berharga bagi putra-putri di Kepri ini. Bengkel pesawat disediakan, dan itu membutuhkan investasi tidak sedikit. Ini penting dan sejalan dengan keberadaan maskapai penerbangan Lion Air yang sudah membuka bengkel penerbangan di Bandara Hang Nadim Batam, Sriwijaya Air akan membuka bengkel di Bintan. Kemudian Garuda juga akan membuka bengkel.

Bengkel penerbangan jelas akan membutuhkan SDM berupa teknisi. Siapa menjadi teknisi pesawat terbang? Mereka adalah putra-putri tempatan, alumnus Politeknik Negeri Batam dari prodi Teknik Perawatan Pesawat Udara yang berlisensi dari AMTO. Hanya lulusan jurusan ini yang akan mengisi lowongan kerja mahal, bergengsi, dan dibutuhkan dunia penerbangan ini. Ini pendidikan masa depan menjanjikan dan cemerlang. Gajinya pasti besar.

Tahun 2017 ini, prodi Teknik Perawatan Pesawat Udara, prodi Perencanaan dan Konstruksi Kapal, Robotika, dan Teknik Instrumentasi resmi dibuka dan menerima mahasiswa angkatan pertama. Ke depan akan dibuka lagi prodi-prodi andal, dibutuhkan, dan terkait masyarakat tingkat nasional dan internasional. Untuk informasi dapat diperoleh di website: http://www.polibatam.ac.id

Terobosan juga dilakukan dengan membuka kampus baru di Kawasan Industri Batamindo Mukakuning dengan prodi Teknik Mesin, Teknik Elektronika, Teknik Informatika, dan Akuntansi. Mahasiswanya adalah para pekerja di kawasan industri dan masyarakat sekitarnya. Kampus ini dibangun untuk memberikan kesempatan luas kepada tenaga kerja untuk meningkatkan pendidikannya, dengan jarak tempuh lebih dekat, dan tentu akan lebih terjangkau. Kita juga pernah mengadakan kerja sama dengan Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia dan Timor Leste dan dengan membuka Warung Prancis di Kampus Politeknik Batam, Warung Prancis adalah jalan untuk bekerja dan kuliah di Prancis.

Kemajuan yang diperoleh Politeknik cukup spektakuler. Ketika pertama kali beroperasi Maret 2001 di gedung Pertamina Tongkang, Batuampar, Politeknik hanya memiliki tiga program studi (prodi) yaitu D3 Elektronika Industri, D3 Aplikasi Perangkat Lunak, dan D3 Akuntansi. Dosennya hanya 18. Jumlah mahasiswa saat itu juga sangat sedikit. Membutuhkan waktu untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat Kepri terhadap Politeknik. Politeknik adalah nama yang baru namun sangat menjanjikan dan diperlukan dunia industri di Kepri. Sayangnya sebagian masyarakat belum tahu bahwa sudah ada Politeknik di Tanah Bunda Melayu ini.

Bapak satu anak ini mengakui, tim kreatif Politeknik harus kreatif dan menjemput bola. Mereka pergi ke kabupaten, kota, dan pulau-pulau di Kepri untuk memaparkan keunggulan dan manfaat masuk ke Politeknik. Masyarakat Kepri sangat mendukung dan senang. Mereka langsung menjatuhkan pilihannya memasukkan anaknya ke Politeknik Batam.

‘’Mereka tidak ragu menitipkan putra-putrinya mendapatkan pendidikan di Politeknik. Pelan-pelan tapi pasti, Politeknik semakin dikenal dan diminati generasi muda,’’ sebut lelaki kelahiran Telukpandan Belitung, Provinsi Bangka Belitung, 30 Juni 1957 tersebut.

Anak keenam dari 11 bersaudara itu menambahkan, barometer keberhasilan satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) atau Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah Sumber Daya Manusia (SDM) berupa, dosen, dan staf. Mereka adalah motor yang menggerakkan sistem pendidikan. Politeknik terus memperbaiki keadaan dengan menambah dosen menjadi total 134 dengan jenjang pendidikan S1 dengan persentase 30 persen, S2 dengan persentase 70 persen. Enam dosen bergelar doktor (S3) dari luar negeri seperti Uuf Brajawidagda, Budi Sugandi, Daniel Sutopo Pamungkas, Metta Santiputri, Martina Damayanti dan Hanifah Widiastuti. Ke depan semua dosen akan disekolahkan meraih gelar doktor. Laboratorium, perpustakaan, komputer, bengkel, dan lainnya semakin dilengkapi.

Politeknik semakin menasional setelah Presiden (saat itu) Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) menaikkan status Politeknik Batam menjadi Politeknik Negeri Batam di Irian Jaya, Oktober 2010. Ini adalah prestasi, kebanggaan, kebahagiaan bagi masyarakat Kepri pada umumnya.
Politeknik adalah lembaga pendidikan elit, khas, dan sangat dibutuhkan dunia industri, terutama manufaktur elektronik, shipyard, industri ringan, industri berat, teknologi informasi dan komunikasi, perbankan, dan lainnya. Politeknik hanya akan menjadi negeri bila dosen, staf, sistem pendidikannya sudah mengacu kepada standar nasional dan internasional. Semua sistem sudah siap dan jalan.

Awalnya, mereka hanya punya tiga prodi, kini berkembang menjadi 14 prodi yang tersebar di empat jurusan yaitu Teknik Elektro, Teknik Informatika, Teknik Mesin, dan Manajemen Bisnis.

‘’Kita memiliki sekitar 3.500 mahasiswa dari berbagai jurusan, serta telah melepas sekitar 2.500 alumnus,’’ ujar Eko yang merupakan anak seorang Kepala SMPN 1 Tanjungpandan, Belitung, Provinsi Bangka Belitung, Kepala SMPN 2 dan SMPN 4 di Yogyakarta itu.

Akademisi Politeknik terus jurusan melakukan berbagai terobosan, pengembangan, pengabdian, dan penelitian. Mahasiswa juga banyak mengukir prestasi di berbagai iven. Misalnya Juara umum Kontes Robot Indonesia Regional Sumatera selama 5 tahun berturut-turut dari 2011-2015, bahkan pada tahun 2011 kita menjadi 2nd Runner Up Finalis Kontes Mobil Hemat Energi tingkat nasional 2015 di Malang Jawa Timur. Kemudian Juara I dan II Animasi Budaya Lokal pada Pagelaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) tingkat nasional di tahun 2014, dan menempatkan 5 Finalis dari 10 finalis kategori yang sama pada tahun 2016, Juara II Festival Pajak Tingkat Nasional tahun 2016. Terakhir, kami Juara I Kontes Robot Sepakbola Nasional 2016 dan akan berlaga mewakili Indonesia pada Kontes Robot Internasional di Jepang, Juni 2017.

Untuk mahasiswa yang memiliki keterbatasan dana, Politeknik memiliki program beasiswa Bidik Misi. Mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi bebas biaya pendidikan sampai diwisuda. Lalu ada program PMDK Berprestasi. Di sini calon mahasiswa bebas biaya pendidikan untuk semester I jika bisa menunjukkan nilai rapor atau Ujian Akhir Nasional (UAN) tertinggi. Politeknik mengupayakan mahasiswa mendapatkan beasiswa dari berbagai lembaga manapun. Prinsipnya dari sisi biaya pendidikan, Politeknik menerapkan biaya pendidikan kepada calon mahasiswa sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarganya. Sehingga selama calon mahasiswa punya semangat, motivasi, dan gairah yang tinggi untuk melanjutkan studi, maka secara finansial Politeknik sudah menyiapkan solusinya.

Seiring dengan tingkat kebutuhan dan perkembangan, kampus seluas 10,5 hektare saat ini sudah kurang memadai. Relatif sempit. Diperlukan tempat baru lebih luas. Ada rencana Politeknik akan dibuka di daerah Barelang.

Eko melanjutkan, dulu dia kuliah di Prancis tahun (1986-1992). Orang Prancis, dan orang barat umumnya sangat tepat waktu, sangat serius dalam hal apapun. Mereka sangat aktif tanpa disuruh. Mereka juga jujur dan mau mengakui kesalahan dan kebenaran yang mereka lakukan.

Tidak segan meminta maaf. Mereka tidak mau menjadi penonton, atau hanya mendengar apa kata dosen. Masyarakat mereka kreatif, cerdas, dan kritis. Ini perlu dicontoh untuk menghasilkan calon pemimpin yang inovatif, cerdas, dan cepat mengambil keputusan untuk bangsa dan negara.

Terkait pengembangan pendidikan, Eko mengatakan pemerintah Indonesia perlu menyontoh pemerintah Prancis. Mereka tidak tanggung-tanggung mengucurkan dana untuk dunia pendidikan. Pendidikan diutamakan. Siswa dan mahasiswa tidak kesulitan mendapatkan pendidikan murah dan berkualitas. Jadi, jangan biarkan dunia pendidikan, akademisi, perguruan tinggi ‘’bekerja’’ sendiri membangun dunia pendidikan. Pemko, Pemkab, Pemprov, dan pengusaha juga harus mendukung. Jangan hanya dibebankan kepada pemerintah pusat.

Kenapa? Menurut Eko ini kan putra-putri Melayu dan tempatan. Mereka anak-anak kita. Kalau mereka diwisuda, pemerintah daerah pasti membutuhkan mereka untuk mengisi berbagai sektor kehidupan di Kepri. Ibarat pohon (mahasiswa), sejak kecil pemerintah dan pengusaha harus memberi pupuk dan menyirami.

‘’Nah saat pohon (mahasiswa) itu berbuah (wisuda), buahnya kan pemerintah dan pengusaha juga yang akan menikmati. Jangan sampai pohon disirami oleh A, ketika berbuah Z yang menikmati,’’ tutup Eko. ***

Advertisements

February 3, 2017 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: