Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Selain Dosen, Juga Dirikan SMK, TK Islam dan Rumah Tahfiz

Kisah Inspiratif Warga Batam: H Muhammad Zaenuddin SSi MSc

SUPRIZAL TANJUNG, Batam

Anak-anak Batam harus pintar, tahu agama, dan juga menguasai teknologi. Biaya jangan lagi menjadi kendala sehingga anak tidak mendapatkan pendidikan berkualitas. SMK Maarif NU Kota Batam yang didirikan H Muhammad Zaenuddin SSi MSc adalah solusi melahirkan siswa pintar tahu teknologi dan taat bergama dengan biaya murah.

Condra Antoni (kiri)  dan Muhammad Zaenuddin (kedua dari kiri), di kampus Politeknik Batam, Rabu 4 Juli 2012. F Suprizal Tanjung

Nama H Muhammad Zaenuddin SSi MSc cukup dikenal di kota Batam. Dia adalah dosen di Politeknik Negeri Batam. Kandidat doktor di Universitas Gajah Mada (UGM). Menjabat sebagai Wakil Ketua PW Nahdatul Ulama (NU) Kepri, mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batam (2004-2006, 2008-2009). Semua dijalani Zaen, panggilan akrab Muhammad Zaenuddin dengan semangat, jujur, keras, dan amanah. Hal itu dilakukan sebagai bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, pengabdian, dan penelitian.

Dengan posisi dia sebagai dosen, sekaligus sebagai pembina Ikatan Mahasiswa Muslim Politeknik Batam (IMMPB), Zain belum merasa puas terhadap apa yang sudah dia berikan kepada dunia pendidikan di Batam. Tri Darma Penguruan Tinggi tidak sebatas di perguruan tinggi saja. Di luar kampus, masyarakat masih banyak membutuhkan uluran tangan para akademisi, berbentuk pengabdian untuk membangun sektor pendidikan seperti SMK Maarif NU, SMK Berbasis Pesantren yang saat ini sudah beroperasi di ruko Perum Bida Asri II Batam Centre.

Untuk menghidupkan dan menggairahkan semangat mengajar di SMK Maarif, Zaen dan pengurus yayasan lainnya pernah mengeluarkan zahat harta untuk membayar Tunjangan Hari Raya (THR) pada gurunya. Bila di tempat pendidikan lain, pengurus yayasan mendapat keuntungan dari sekolah yang mereka bina, maka di SMK Maarif, pengurus Yayasan Wildanul Bilad malah mengeluarkan uang, harta mereka untuk para guru. Ini dilakukan atas dasar, pendidikan bukan untuk mencari untung, tapi mengabdi, dan membantu.

SMK Maarif sudah menerima murid tiga angkatan. Jumlah muridnya sudah mencapai 45 orang. Masuk tetap melewati proses seleksi pendidikan umum, dan pendidikan Islam. Tidak sembarang menerima siswa. Mereka berasal dari siswa-siswi dari berbagai daerah di Batam. Seperti tadi, siswa tadi tidak semuanya dari keluarga mampu secara ekonomi. Siswa kurang mampu dibantu mendapatkan bapak asuh, atau dana CSR dari dari Batam Pos, PLN, Novitel, Kemenag, dan lainnya. Continue reading

Advertisements

August 3, 2017 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

Dari Pedagang Kaki Lima, Kini Jadi Raja Cat

Kisah Inspiratif Warga Batam: Munir Liao Acai

JAMIL QASIM, Batam

Sejak usia 13 tahun, ia sudah meninggalkan kampung halamannya di Senggarang, Tanjungpinang. Keinginan untuk maju sedikit demi sedikit sudah menjadi prinsipnya sejak kecil. Dan kini orang mengenalnya sebagai raja cat di Kepri. Mari simak kisahnya.

Munir Liao Acai

Sudah 40 tahun Munir Liao Acai menetap di Batam. Kesuksesannya saat ini tidak lepas dari perjalanan hidupnya selama membanting tulang di pulau “kalajengking” ini.
Yang menarik dari Acai adalah moto hidup yang selalu dipegangnya. Menurutnya, untuk sukses perlu gila terlebih dahulu, berpikiran sederhana dan terus maju. Maju sedikit demi sedikit setiap hari. Pastikan sampai ke puncak suatu hari.

Gila yang dimaksud Acai di sini yakni harus bekerja keras dan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Bagi Acai, tak ada keinginan lain dalam hidupnya selain untuk terus mengembangkan diri ke arah yang lebih maju.

Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di perantauan, Acai pun tak pernah menyerah dalam berusaha. ’’Sejak remaja hingga saat ini, setidaknya mungkin ada lebih 20 jenis usaha yang pernah saya kerjakan. Mulai dari jualan ikan di pasar Bengkong, toko kelontong, jual cendol di kaki lima Nagoya lama, usaha katering, membuat papan nama jalan hingga membuat marka jalan di Batam sudah pernah saya lakukan,” ungkap pemilik PT Pacific Federal Factory-PFF Paint ini.

Namun bagi anak bungsu dari lima bersaudara ini, tidak ada kata menyerah dalam berusaha. ’’Prinsip hidup saya tiap hari harus maju sedikit, dan tiap hari juga mesti harus ada koreksi diri (evaluasi) terhadap apa yang telah saya lakukan. Sehingga besoknya melangkah bisa lebih baik lagi,” terangnya.

Baginya dalam bekerja, ketepatan waktu juga menjadi harga mati. Karena dengan selalu tepat dalam bekerja, berarti tidak ada waktu yang terbuang dengan sia-sia. ’’Kalau ada pekerjaan yang mesti diselesaikan hari ini, kenapa harus menunggu hingga besok,” kata pemilik PFF Paint ini. Continue reading

August 3, 2017 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment