Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Jadi Penyambut Tamu hingga Petugas Parkir

Kisah Inspiratif Warga Batam: Sony Piliang

SUPRIZAL TANJUNG, Batam

SONY Piliang dikenal pengusaha rental dan jual beli mobil. Selain itu, ia juga salah satu pengusaha hiburan di Batam.

Sony Piliang di Bengkong, Rabu (30/11/2016). F Suprizal Tanjung

Usaha jual beli dan rental mobil cukup menjanjikan. Ia sudah melakoninya sejak 2015 lalu. Penghasilannya dari usaha ini bisa mencapai Rp 30-75 juta. “Untuk rental mobil kita punya 5 unit mobil, dan keistimewaan kita memberikan kenyamanan sepenuhnya pada pelanggan,” ungkapnya.

Selain itu, juga dikenal sebagai pengusaha hiburan. Penghasilannya di usaha ini juga tak sedikit. “Untuk rezeki, alhamdulillah semua sudah diatur Allah SWT. Kita hanya dituntut untuk terus berusaha dan bersyukur,” katanya di Lubukbaja, Batam, Rabu 16/11/2017).

Meski sudah mendapat rezeki yang melimpah, ia tetap hidup bersahaja. Apalagi sekarang ia juga diamanahkan sebagai Ketua Generasi Muda Pariaman (Gempar) Kota Batam.

Baginya, mengurus paguyuban dengan anggota sekitar 40 ribu tidak mudah. Guna menyatukan perbedaan dan meningkatkan kebersamaan, Sony Piliang tak sungkan menjadi penyambut tamu bahkan petugas parkir dadakan.

Di Batam itu mengaku berkawan dengan Gubernur Kepri Nurdin Basirun, Wali Kota Batam HM Rudi, Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad, serta pejabat, TNI, Polri dan lainnya.

“Saya tetap orang biasa. Beliau-beliau tadi yang pejabat. Saya tetaplah Sony yang dulu, yang tidak menolak minum kopi dan makan di warung kopi kaki lima. Mudah ditemui kapanpun dan di manapun,” papar Sony.

Dalam berkawan, Sony tidak pilih-pilih orang. Pengusaha, pejabat, tukang sapu jalan, bahkan, tukang parkir pun menjadi kawan Sony. Khusus tukang parkir, dia sering melihat, bahkan mempelajari sedikit-sedikit cara kerja pasukan berbaju biru itu.

“Saya sering melihat petugas parkir bekerja dan mengamati cara kerja mereka. Nah, saat ada pesta pernikahan anggota dan pengurus Gempar Batam, saya bersama pengurus Gempar lainnya ikut mengatur mobil dan motor yang mau diparkirkan tamu dan undangan. Hasil kerja kami lumayan. Ratusan mobil dan motor yang masuk bisa kami atur,” sebut Sony, yang juga berencana jadi calon anggota DPRD Kota Batam pada Pemilu Legislatif 2019 mendatang.

Menjabat posisi dia sebagai ketua, Sony tidak pula alergi menjadi penyambut tamu ketika ada upacara adat Minang terutama Pariaman, atau ketika saat ada pesta pernikahan keluarga besar Gempar.

Sony menambahkan, menjadi penyambut tamu atau petugas parkir, atau menyusun bangku dan meja untuk satu acara, tidak akan merendahkan/ menjatuhkan harga diri seorang ketua. Seorang ketua harus bisa membuktikan bahwa seorang ketua itu harus mau menyatu dengan anggota, pengurus, dan masyarakatnya. Ketua tidak alergi dengan keadaan di sekitar. Menjadi pemimpin, ketua, tidak berarti harus duduk-duduk di bangku, disalami orang banyak, minta dihargai, minta dihormati. Pola pikir seperti itu harus diubah. Dan itu telah dilakukan Sony yang menjabat sebagai Ketua Gempar periode 2014-2019.

Ekonomi, papar Sony, itu sangat penting dalam satu organisasi. Organisasi salah satu faktor yang bisa menggerakkan organisasi. Dalam organisasi, tidak semua anggota menggunakan mobil, menjadi anggota DPRD Batam~Kepri, DPD, atau menjadi pengusaha sekelas Menpan-RP, Dr H Asman Abnur SE MSi, yang juga berasal dari Pariaman. Tidak sedikit yang hanya punya motor, dan kehidupan ekonominya apa adanya. Untuk pengurus dan anggota yang seperti ini, Sony tidak segan membantu, berdiskusi, bahkan duduk mengelilingi meja yang sama.

“Silakan tanya kepada Sekum Gempar, Pak Taherman. Apakah ada saya membedakan pengurus satu dengan lainnya hanya karena faktor ekonomi atau pekerjaan? Itu tidak boleh terjadi,” tegas Sony.

Perbuatan dan sikap seperti ini, kata Sony, membuat pengurus, anggota, dan warga Gempar tidak alergi dengan sang ketua. Ketua tidak boleh dianggap sebagai orang asing, mewah, tinggi, mulia, dan sulit didekati. Gempar menjadi besar dan menjadi kebanggaan bagi Ikatan Keluarga Sumatera Barat (IKSB).

Salah satu basis pengembangan Islam di Sumatera Barat, kata Sony, adalah Pariaman. Ketika masuk di negeri Melayu (Batam) yang kental Islam-nya ini, warga Gemar seperti di kampung sendiri. Gempar menjadi tempat berkumpul, memberi informasi lapangan kerja, bermitra, dan lainnya. Selain faktor ekonomi, Gempar juga menjalankan dakwah. Orang Pariaman banyak yang jadi ustaz, guru agama, dai, dan lainnya. Di negeri yang elok dan ramah ini kita hidup, mencari rezeki, berumah tangga, beranak pinak, membesarkan Islam, sekaligus menjaga, dan membangun Batam. Dengan Islam yang baik, akhlak, sopan santun, kerja keras, menyatu dengan masyarakat Batam, menjauhi narkoba dan kriminal, membuat Gempar diterima dengan baik dalam berbagai sektor.

Diakui Sony, bagaimanapun besarnya satu organisasi kedaerahan, jika ketuanya tidak mampu menyatu dengan pengurus, anggota, dan masyarakatnya, itu tanda tidak baik. Percayalah, organisasi seperti itu akan sepi, programnya tidak akan jalan, dan akan lahir rasa tidak senang, saling curiga satu sama lain.

Berbagai kegiatan dilakukan Gempar salah satunya membangun Masjid Babussalam di Bengkong Indah Bawah. Di Babussalam mereka mengadakan wirid setiap tanggal 1. Mereka juga berperan aktif membantu, mengurus anggota yang meninggal, sakit, nikah, pesta pernikahan, dapat musibah, dan lainnya. ***

Advertisements

November 16, 2017 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: