Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Fatwa Pujangga, Kisah Cinta Mendalam Seorang Penggemar

Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku menikmati dendangan lagu-lagu Melayu yang disiarkan oleh salah satu stasiun Radio FM. Sederetan lagu-lagu populer tempo dulu mengalun dengan indahnya, membuat hati merasa terhibur dan pikiranku kembali surut ke belakang, mengenang masa-masa lalu yang penuh kenangan.

said-effendi-4

Di antara sekian lagu yang mengudara di sore itu, salah satunya yang mengusik pikiranku adalah lagu Fatwa Pujangga ciptaan Said Effendi.

Lagu yang pernah populer di era 60-an ini menyimpan sebuah kisah yang tak banyak diketahui publik.

said_effendi

Ada kabar di tengah masyarakat, di masa–masa jayanya, Said Effendi banyak menerima surat dari para penggemarnya. Sebagaimana lazimnya isi surat penggemar, tentulah berisikan pujian dan sanjungan. Konon kabarnya Said Effendi, sang penyanyi yang tenar tapi rendah hati itu, selalu membalas surat-surat dari penggemarnya.

Di antara sekian banyak surat yang masuk, salah satu di antaranya ada yang mengutarakan isi hatinya. Dia, menyatakan ketertarikannya kepada sosok penyanyi yang sangat dikenal lewat lagu Asmara Dewi dan Bunga Seroja itu.

Isi suratnya penuh dengan kata yang indah dan puitis sekaligus menyatakan cintanya kepada sang pujaannya Said Effendi.

Kata penutup dari surat itu menyebutkan bahwa si pengirimnya tidak mengharapkan balasan cintanya. Sudah membahagiakan bila surat tersebut sudah sampai ke tangan yang dituju.

Kalimat penutup yang tak mengharapkan apapun itulah yang membuat Said Effendi menjadi terenyuh sekaligus penasaran. Siapa gerangan perempuan yang telah menulis surat itu?

Isinya menyatakan cinta yang tulus tanpa mengaharpakan balasan. Surat cinta yang dikirimkan penggemarnya itu membuat Said Effendi merasa gelisah, tidak tahu kemana surat balasan harus dilayangkan.

Itu terjadi karena surat tersebut tidak memiliki alamat pengirim, dan dalam suasana hati yang berkecamuk itulah dia melahirkan lagu Fatwa Pujangga.

Inilah lagu tersebut:

.

Tlah kuterima suratmu nan lalu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun indah sayang
Bagaikan madah fatwa pujangga

Kan kusimpan suratmu nan itu
Bak pusaka yang amat bermutu
Walau kita tak lagi bersua sayang
Cukup sudah cintamu setia

Reff

Tapi sayang sayang sayang
Seribu kali sayang
Ke manakah risalahku
Nak kualamatkan

Terimalah jawabanku ini
Hanyalah doa restu Illahi
Moga lah bang/dik kau tak putus asa sayang
Pasti kelak kita kan berjumpa

Kembali ke Reff

.

Beberapa tahun kemudian, setelah lagu Fatwa Pujangga mengudara lewat siaran RRI, penggemar istimewa itu kembali mengirimkan surat kepada Said Effendi.

Isinya menyebutkan bahwa dia sudah sangat bahagia karena telah berkesempatan melihat langsung penyanyi pujaannya itu saat manggung distudio RRI Jakarta.

Sayangnya sampai akhir hayatnya Said Effendi tidak pernah tau siapa si pengirim surat itu sebenarnya.

*

Said Effendi (lahir di Besuki, 25 Agustus 1925 – meninggal di Jakarta, 11 April 1983 pada umur 57 tahun) adalah seniman musik Melayu pada era 1950-an sampai 1970-an. Ia memopulerkan lagu Seroja yang populer hingga ke Malaysia. Selain menulis lagu dan menyanyi, ia pernah pula bermain film berjudul Seroja (sutradara Nawi Ismail), Titian Serambut Dibelah Tujuh (Asrul Sani), dan Pesta Musik Lobana (Misbach Yusa Biran).

Lewat lagu Bahtera Laju, Said Effendi menempatkan diri sebagai pelantun irama Melayu yang tersohor dizamannya, menyamai populariti P. Ramlee. Said Effendi melantunkan lagu-lagu popular yang diciptakannya sendiri, seperti Bahtera Laju, Timang-timang, danFatwa Pujangga, maupun karya orang lain, misalnya Semalam di Malaysia (karya Syaiful Bahri), Di Ambang Sore (Ismail Marzuki), dan Seroja karya Husein Bawafie. Lagu terakhir ini membawanya pada puncak kegemilangan[1].

Semua penghargaan yang diterimanya adalah anumerta (post-humous), mulai dari Anugerah Dangdut TPI (1998), Persatuan Wartawan Indonesia, Anugerah Seni dari PT Variapop, Nugraha Bhakti Musik Indonesia (2004), dan dari Parfi dan Persatuan Seniman Malaysia (2006). ***

http://www.kompasiana.com/asmarirahman/sekelumit-kisah-di-balik-lagu-fatwa-pujangga_56f159f90f9773cc0969ac25

Advertisements

October 3, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: