Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Hewan Kurban Dibedaki dan Rambutnya Disisir Sebelum Disembelih

Keunikan Perayaan Idul Adha di Padang

Berbagai cara dilakukan warga menyambut perayaan Hari Raya Idul Adha 1434 Hijriah atau Senin (12/9/2016).  Di Masjid Nurul Huda, kawasan Purusbaru, Kecamatan Padang Barat, Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) misalnya. Hewan kurban dibedaki dan rambutnya disisir sebelum disembelih. Seperti apa?

SYAWAL, Purusbaru

Pagi itu halaman Masjid Nurul Huda yang terletak di Jalan Durian No 5 RT 2 RW 7, Purusbaru, Kecamatan Padang Barat, terlihat ramai. Rintik hujan tidak menyurutkan niat warga untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban. Halaman masjid dipenuhi sapi kurban.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak serta balita juga turut menyaksikan pemotongan hewan kurban. Seorang balita menangis saat seekor hewan kurban mengeluarkan suara lenguhan yang keras saat panitia menarik talinya.

Sebelum sapi kurban disembelih, menariknya, seorang wanita tua terlihat menyiram sapi tersebut dengan air bunga dan membedakinya. Kemudian menyisir bulu-bulu (rambutnya) yang berada di kepala hingga ke leher sapi kurban tersebut.

Setelah selesai prosesi itu, wanita tua itu menjauh dari hewan tersebut dan panitia kurban mulai mendekati dan mengikat ke empat kaki hewan kurban sembari direbahkan di halaman masjid tersebut.

Diiringi takbir oleh imam masjid, tukang potong mulai menggosokkan golok tajamnya ke leher sapi. Tidak lama berselang, darah segar mulai keluar dari leher sapi hingga membasahi halaman masjid hingga sapi tersebut pun tidak bergerak lagi. Continue reading

September 22, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

Ketika Suku Anak Dalam Menginap di Mapolsek Kuranji Padang

Buang Sial karena Keluarga Meninggal, Rela Jalan Kaki dari Sumbar Hingga Riau

Seringkali adat sebagai aturan yang mengikat bagi suatu suku maupun ras tertentu membuat pengikutnya tunduk dan patuh untuk menjalan tradisi yang sudah dijalankan secara turun-temurun. Meski bagi banyak orang menganggap tradisi adat suatu kelompok dipandang aneh dan tabu. Namun bagi mereka yang namanya tradisi harus tetap dijalankan hingga saat ini.

Buang Sial : Sebanyak 24 orang suku anak dalam Jambi tidur pulas, saat menumpang tidur di parkiran Polsek Kuranji (21/09) Kec. Kuranji,Padang, setelah berjalan kaki dari kampung halamannya 40 hari lalu. Mereka harus berjalan kaki selama 100 hari lamanya, ini bagian tradisi adat mereka, untuk membual sial, karena salah satu keluarga mereka meninggal dunia/ Sy Ridwan/Padang Ekspres

Kelompok Suku Anak Dalam tidur pelataran parkir Polsek Kuranji, Padang, Rabu (21/9/2016) malam. SY Ridwan/Padang Ekspres

Dalam hal menghilangkan rasa kesedihan atau buang sial, adat berjalankan kaki meningggalkan tempat tinggal menelusuri wilayah yang sangat jauh harus dilakukan. Hal itu merupakan salah satu adat yang masih dianut dan dijalankan oleh suku anak dalam (SAD), atau yang lebih dikenal dengan orang kubu.

Akibat meninggalnya salah seorang keluarga mereka, kelompok suku anak dalam itu harus berjalan menelusuri Sumbar, Riau dan Jambi. 24 orang suku anak dalam itu yang terdiri dari 4 pria dewasa dan 6 wanita dewasa serta anak-anak kisaran umur 2-8 tahun dan semuanya itu masih dalam satu keluarga besar.

SAD ini berasal dari Muaro Bungo itu rencananya akan melangkah menuju Kiliran Jao dan kembali ke Muaro Bungo melalui Solok , Bukitinggi, Bangkinang hingga Kiliran Jao. Langkah ratusan Kilometer itu harus mereka jajaki. Dan sekarang selama 40 hari semenjak keberangkatan mereka baru berada di Padang.

Rabu (21/9/2016) malam mereka ditemukan oleh pihak Polisi Sektor (Polsek) Kuranji Padang dan bermukim di pelataran parkir kantor tersebut. Salah seorang SAD bercerita tradisi ini sebagai bentuk pelepas kesedihan yang mengharuskannya meninggalkan pemukiman selama tiga bulan.

Nenek dari Kholija, 40 salah seorang keluarga SAD yang melakukan tradisi adat itu, telah meninggal dunia beberapa waktu lalu, hingga kesedihan bagi keluarga besar tidak terbendung. Sesuai dengan tradisi SAD maka mengharuskan mereka untuk pergi untuk beberapa waktu. Continue reading

September 22, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

Lalu Yuni Awinggih, Pelukis yang Mengidap Tumor Parotis

Pernah Pameran ke Singapura, Terus Melukis Walau Dijangkiti Tumor

Nama Lalu Yuni Awinggih, 46 tahun tidak terlalu asing bagi masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terutama pencinta seni lukis. Seniman asal Dusun Lendang Telage, Desa Waja Geseng Kecamatan Kopang Lombok Tengah ini benar-benar mengajarkan totalitas dalam memegang prinsip hidup melalui seni rupa realisme fotografis.

AZWAR ZAMHURI, Lombok Tengah

Pria yang akrab disapa Mamiq Awinggih itu tengah duduk santai di teras rumahnya, Minggu (18/9/2016).

lalu-yuni-awinggih-pelukis-hebat-ntb-yang-mengidap-tumor-parotis-image

Lalu Yuni Awinggih berdiri di dekat lukisannya, Minggu (18/9). f.AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK

Mata kanannya seolah tertutupi kain yang menyeliputi kepala. Bentuk mulutnya seperti sudah tidak normal lagi.

Dalam kondisi seperti itu, ia menyambut dengan ramah. Tubuhnya yang terlihat lemas dan semakin kurus tidak merusak semangatnya yang terus berkobar. Mamiq Awinggih benar-benar menunjukkan sosok seniman sejati.

Dulu, setiap hari, sejak tahun 1994 dirinya selalu melukis dengan gaya realisme fotografis. Sebuah aliran seni rupa yang melukis kembali hasil jepretan kamera atau fotografi.

Namun kehebatannya dalam melukis mulai luntur sedikit demi sedikit saat tumor parotis semakin menggerogotinya sejak tahun 2014 lalu.

Ia menyebutkan, pernah menuntaskan sebuah karya lukisan fotografi hanya dua jam saja.

”Tapi sekarang apa, satu lukisan bisa dua bulan baru jadi,” tuturnya. Continue reading

September 21, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

Masuk Islam karena Hampir Celaka dalam Pesawat

Dia adalah Rita Rahmat, Direktur perusahaan komunikasi dan media relation Aircomm. Ia menuturkan awal mula kisahnya mengenal Allah ketika saat dia berada di titik terendah.Usahanya bangkrut, dan musibah datang bertubi-tubi.

pesawat-kecelakaan

Foto ilustrasi. Pesawat mengudara di tengah sambaran petir.

Ia mengurung diri di kamar, merenung. Rita kehilangan kepercayaan pada Tuhan. Daripada bingung berdoa pada banyak Tuhan, katanya, maka ia memutuskan ‘berhenti’ beragama.

“Saya menyembah dan percaya pada Tuhan Sang Maha Pencipta, tapi tanpa agama,” katanya.

Ia memutuskan pergi dari Jakarta, menggarap tawaran proyek kecil di Pulau Bintan.Walau diakuinya, pekerjaan itu tak terlalu menolong secara ekonomi.

Bahkan, ia pernah pulang ke Jakarta dari Bintan, dalam kondisi tak punya sepeser uangpun, dan terdampar di bandara Changi pula, karena tertinggal pesawat. Namun kini ia menyadari, itulah cara yang diatur oleh-Nya untuk hidup dalam tuntunan Islam.

Dengan uang seadanya hasil pengembalian tiket, ia menyeberang ke Batam. Baru keesokan harinya ia kembali ke Jakarta dengan penerbangan berikutnya. Jalan pulang yang dilalui, tidaklah mulus. Cuaca buruk, pesawat bergetar hebat. Penumpang panik, termasuk Rita.

“Saya berpikir tentang kematian. Bagaimana jika saya mati dan tak beragama?”  ia mengisahkan pada Republika , Rabu Siang.

Tiba-tiba ia teringat Islam yang ajarannya sempat mencuri perhatiannya beberapa bulan terakhir.

“Saya bersumpah dalam hati, jika pesawat berhenti terguncang, maka saya akan masuk Islam,”  ujarnya. Tak menunggu sampai semenit, seketika itu juga pesawat kembali tenang.

Rita bersyukur. Namun, ia menyesali dengan sumpah yang dia ucapkan sebelumnya, dan mencoba meralatnya, dengan berusaha menyakinkan dirinya bahwa guncangan itu adalah akibat cuaca buruk, dan kini guncangan itu terhenti karena cuaca telah membaik, bukan merupakan campur tangan Allah.

“Sesaat saja setelah pikiran itu terlintas, mendadak pesawat kembali terguncang, lebih hebat. Seketika itulah saya menyadari, Saya manusia lemah, ada yang lebih berkuasa atas saya. Islam, itu yang ada dalam benak hati saya,” katanya, yang menyakinkan dirinya  bertekad untuk menjadi Muslim. Ia ingat,  kejadian waktu itu menunjukkan pukul 17.35 WIB, di penghujung tahun 1999. Ia pulang karena untuk menghormati keluarga besarnya yang merayakan Natal.

Continue reading

September 21, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

Ketika Komisioner KPU, Hadar Nafis Gumay, Pulang Kampung ke Sumbar

Terpidana yang Ikut Pilkada Harus Kantongi Surat Pemred

Komisioner Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU-RI), Hadar Nafis Gumay, ternyata urang awak. Ibunya berasal dari Tilatangkamang, Agam, Sumbar. Sabtu (17/9/2016) lalu,

Hadar berkunjung ke Payakumbuh. Dia berbicara panjang lebar soal pilkada serentak 2017 yang di dalamnya termasuk Pilkada Payakumbuh dan Mentawai.

FAJAR R VESKY, Payakumbuh

Memakai baju batik lengan pendek dipadu celana jeans dan sepatu kets, Hadar Nafis Gumay, 56, turun dari mobil dinas Ketua KPU Payakumbuh, Hetta Manbayu.

DISKUSI: Komisioner KPU-RI Hadar Nafis Gumay berdiskusi dengan Ketua KPU Payakumbuh Hetta Manbayu, serta dua komisioner setempat, Muhammad Khadafi dan Yuzalmon, Sabtu (17/9) lalu--fajar rillah/padang ekspres

Komisioner KPU-RI, Hadar Nafis Gumay (ketiga dari kiri) berdiskusi dengan Ketua KPU Payakumbuh Hetta Manbayu, serta dua komisioner setempat, Muhammad Khadafi dan Yuzalmon, Sabtu (17/9/2016). Fajar Rillah/Padang Ekspres

Begitu menginjakkan kaki di Rumah Makan Pongek Or Situjuah, Hadar menyandang tas ranselnya. Lalu, masuk ke dalam rumah makan yang terletak di kawasan di Limbukan, Payakumbuh

Selatan tersebut.

Sebelum melahap nasi dan ikan panggang pada Sabtu menjelang sore itu, Hadar disalami Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi dan Kapolres Payakumbuh AKBP Kuswoto. Kebetulan, Irfendi dan

Kuswoto bersama Kapolres Limapuluh Kota AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto, baru saja melepas rombongan Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, yang pulang rekreasi dari fly over Kelok

Sembilan.

”Ternyata, wajah pak Hadar di televisi dengan aslinya, tetap mirip,” ucap Irfendi, calon bupati termiskin yang unggul dalam Pilkada Limapuluh Kota 2015 lalu.

Mendengar seloroh Irfendi, Hadar ikut tersenyum. ”Ah, pak Bupati bisa saja,” ujar mantan Direktur Cetro itu sebelum pamit untuk makan.

Usai santap siang yang terlambat, Hadar mengobrol ringan dengan Hetta Manbayu. Bersama mereka, ikut pula dalam obrolan itu Komisioner KPU Payakumbuh Yuzalmon dan Khadafi, serta

Komisioner Panwaslu Payakumbuh, Suci dan Ismail Hamzah.

Dari obrolan itu diketahui, Hadar Nafis Gumay ternyata urang awak. Walau lahir dan mengecap pendidikan di Jakarta, tapi ibunya asli Tilatangkamang, Agam, Sumbar.

”Waktu kecil, saya pernah pulang kampung. Waktu itu, pernah diajak mandi di sungai,” kenang Hadar.

”Bagus ini ditulis, ternyata Pak Hadar urang awak,” komentar Yuzalmon kepada Padang Ekspres yang ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Continue reading

September 20, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

372 Rumah Gadang di Solok Selatan Rusak

Perlu Upaya Penyelamatkan Rumah Adat

Sebanyak 372 rumah gadang di Kabupaten Solok Selatan mengalami kerusakan. Dari rusak ringan, sedang dan berat. Perbaikan rumah gadang tersebut terkendala anggaran.

Pantauan Padang Ekspres di sejumlah daerah di Solsel, dari 591 unit rumah gadang yang tersebar di tujuh kecamatan sudah banyak mengalami kerusakan, bahkan satu persatu sudah roboh.

“Perbaikan rumah gadang butuh dana besar, namun untuk pelestarian ini, persukuan di daerah tak punya anggaran, sehingga dibiarkan saja roboh. Kayu sulit, apalagi biaya pelestariannya,” ujar salah seorang niniak mamak di Sangir, Zulkarnain Dt Pintu Basa kepada Padang Ekspres, Minggu (18/9/2016).

Ia berharap, adanya peran pemerintah dalam pelestarian cagar budaya tersebut. Apalagi Solsel populer dengan kawasan seribu rumah gadang. Menurutnya, perlu ada upaya penyelamatkan rumah adat yang terancam punah ini.

“Rumah gadang kami, suku malayu koto kaciak juga rusak parah, namun sudah kami perbaiki sebagian kecil. Di suku lainnya, ada yang sudah roboh rumah gadang pasukuannya. Ini, terkendala anggaran perbaikan,” tukas mamak pasukuan Malayu Koto Kaciak itu.

Di kawasan wisata budaya seribu ruamah gadang, rumah gadang suku Bariang juga terancam punah. Baik atap, dinding, lantai, serta tangga rumah gadang yang dibangun dengan kayu juga sudah keropos.

Sebab, anggaran dana untuk satu unit rumah besar miliaran rupiah. Namun, dana sebesar itu sulit terkumpul persukuan. Dan mustahil bisa terkelola dan terkumpul dana sebesar itu. Maka, peran Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Budaparpora) sangat penting. Sehingga cagar budaya di daerah ini bisa diselamatkan dari kepunahan.

“Kami (DPRD,red) siap memperjuangkannya. Dan segera bicarakan dengan dinas terkait. Kendala perbaikan selama ini tentang apa,” sebut Raymond Anggota DPRD Solsel yang juga tokoh masyarakat setempat. Continue reading

September 18, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

Duterte Pernah Bunuh Rival Politik

Tudingan Mantan Anggota Death Squad

Ruang Senat Filipina, Kamis (15/9/2016) dipenuhi cerita-cerita sadis. Yakni, kisah pembantaian yang dilakukan death squad alias tim pembunuh pelaku kriminalitas seperti pengedar narkoba atau pemerkosa. Cerita-cerita tersebut diungkap Edgar Matobato. Pria yang mengaku mantan anggota death squad itu menjadi saksi dalam rapat dengar pendapat.

Senat saat ini tengah menyelidiki pembunuhan tanpa peradilan dalam perang anti kejahatan yang digulirkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Baik saat menjadi wali kota Davao maupun saat ini. Penyelidikan itu dipimpin anggota Senat sekaligus mantan Menteri Kehakiman Leila de Lima.

Hasil temuan Senat tersebut akan dijadikan referensi ke Ombudsman Filipina. Namun, sebagai presiden, Duterte tentu saja memiliki imunitas. Dia hanya bisa digulingkan lewat pemakzulan.

Matobato mengungkapkan bahwa death squad, sekelompok polisi yang mendukung Duterte dan mantan pemberontak komunis, sudah membunuh sekitar seribu orang. Pembunuhan dilakukan pada 1988 hingga 2013. Death squad menerima perintah dari Duterte maupun anggota kepolisian aktif yang bertugas di kantor wali kota.

Khusus Matobato, dia hanya menerima perintah dari Duterte langsung. ”Saya tidak membunuh siapa pun kecuali diperintah Charlie Mike,” ujar pria 57 tahun tersebut. Death squad menyebut Duterte sebagai Charlie Mike. Continue reading

September 16, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

Potong 5.072 Hewan Kurban se-Kota Batam 1437 H

Perayaan Idul Adha 1437 H Kota Batam

WALI Kota Batam, M Rudi dan Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Ahmad berserta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Batam melaksanakan Salat Idul Adha 1437 Hijriah bersama ribuan masyarakat di lapangan Engku Putri, Batamcenter, Senin (12/9) pagi.

Pada kesempatan itu, Rudi menyampaikan bahwa Hari Raya Idul Adha merupakan momen tepat untuk mensucikan diri dengan berkurban.

“Berkurban dengan jiwa dan raga demi kepentingan bersama, dan semoga Batam bisa lebih baik lagi,” tuturnya.

Usai Salat Id, Rudi bersama istri, Marlin Agustina Rudi menyerahkan hewan kurban. Hal yang sama juga dilakukan Wakil Wali Kota beserta istri, Erlitasari Amsakar. Hewan kurban Wali Kota dan Wali Kota diserahkan kepada Panitia Kurban Masjid Raya Batam.

Tahun ini, ada 5.072 hewan kurban se-Kota Batam, terdiri 941 ekor sapi dan 4.131 ekor kambing. Adapun peserta kurban sebanyak 10.718. Sementara itu, titik pelaksanaan Salat Id ada 544 lokasi. Continue reading

September 13, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

Bunda Mandiri Group Potong 20 Ekor Sapi

3.000 Kupon Dibagikan di Batam, Padang, Batusangkar dan Jakarta

Oleh SUPRIZAL TANJUNG, Batam

KELUARGA besar Bunda Mandiri Group diwakili Pengurus Yayasan Harapan Bunda, Hj H Gusnawati AMd membuka secara resmi pemotongan belasan hewan kurban di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mitra Bunda Persada (MBP) Batam, Seraya, Batam, Senin (12/9/2016) mulai pukul 09.00 WIB sampai selesai.

STIKES Mitra Bunda Persada Batam, 28 April 2013 Minggu, Suprizal Tanjung (38) image

STIKES Mitra Bunda Persada Batam, Jalan Seraya nomor 1, Kota Batam, Telpon (0778) 429431, (0778) 7068283, Minggu (28/4/2013). F Suprizal Tanjung

‘’Alhamdulillah. Sekitar 20 ekor sapi dipotong Bunda Mandiri Group di Hari Raya Idul Adha 1437 H ini. Perinciannya, di STIKes MBP dipotong enam ekor sapi, Masjid Al Falah Nagoya, Masjid Al Amin Simpang Barelang Tembesi tiga ekor sapi, di Masjid Nurul Hidayah Kabupaten Batusangkar Sumatera Barat (Sumbar), Masjid Ar Rahman di Tanjung Aua Padang Sumbar, dan di RS Agung Agung Jakarta tiga ekor sapi,’’ sebut Hj Gusnawati AMd Keb (Wati) yang juga Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Batam tersebut.

didi-rshb-potong-sapi-senin-12-sept-2016-f-suprizal-tanjung-image2

Didi Yunaspi saat proses pemotongan hewan kurban di STIKes MBP Batam, Seraya, Senin (12/9/2016). F Suprizal Tanjung

Sapi yang dipotong tersebut papar Wati, merupakan sumbangan keluarga besar Bunda Mandiri Group yang terdiri dari Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB) Batam, STIKes MBP Batam, Rumah Sakit Agung Jakarta, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Harapan Bunda Batam, Klinik Bunda Baloi Batam, Klinik Asih Batam, Hotel Bunda Batam, dan Masjid Al Amin di Tembesi Batam, Optik Bunda, dan berbagai perusahaan internal lainnya.

Hadir dalam acara tersebut, Pengurus Yayasan Harapan Bunda, H Henry Minit, Pengurus Yayasan Harapan Bunda, Hardizon (Son), Direktur RSHB Dr Made Tantra Wirakesuma MARS, para dosen STIKes MBP, dokter RSHB, dan lainnya.

Wati menambahkan, mereka tidak pernah berhenti menyalurkan bantuan untuk anak yatim piatu duafa, dan orang lain yang berhak menerimanya. Bantuan tersebut berbentuk sumbangan dana dan sembako untuk kaum duafa, jompo yang berada di sekitar RSHB dan warga Batam lainnya. Kemudian mereka juga setiap tahun memotong sapi dan kambing untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar RSHB yang berhak mendapatkannya.

Bukan hanya saat Idul Adha papar Wati, saat minggu pertama Ramadan mereka selalu mengadakan berbuka puasa bersama 1.500 anak yatim, jompo, tokoh masyarakat, dan tokoh agama Islam, dan lainnya. Sebelum berbuka puasa, Bunda Mandiri Group yang berada di bawah naungan Yayasan Harapan Bunda itu membagikan bantuan dana kepada mereka yang berhak. Continue reading

September 12, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment

10 Imigran Nyambi Jadi Gigolo di Batam

800 Dolar AS Sekali Kencan

Sepuluh imigran pria asal Afganistan dan Pakistan ditangkap petugas Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam, Sabtu (3/9/2016) lalu. Mereka diduga telah melanggar hukum karena menjalani profesi sebagai gigolo. Bukan hanya wanita, pelanggan gigolo imigran ini juga dari kalangan pria.

Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam, Muhammad Novyandri, mengatakan penangkapan kesepuluh imigran tersebut berawal dari informasi yang menyebutkan mereka sering berkeliaran di tempat umum. Mulai dari mal, pusat kebugaran, hingga klub malam.

Dari penelusuran di lapangan, petugas Imigrasi mendapati informasi bahwa mereka juga menjajakan diri sebagai pekerja seks. Mereka dikoordinir oleh seorang mucikari yang merupakan warga Indonesia bernama Bonny Syahrio.

“Kami kemudian melakukan penyamaran melalui petugas imigrasi berinisial J, yang mencoba memesan salah satu gigolo tersebut,” ujar Novyandri, Kamis (8/9).

Petugas Imigrasi yang menyamar itu kemudian menghubungi Bonny melalui aplikasi whatsapp. Kepada J, Bonny menawarkan tarif sebesar 800 dolar Singapura atau sekitar Rp 8 juta untuk sekali kencan dengan salah satu anak buahnya bernama Justin. Remaja asal Afganistan yang masih berusia 17 tahun.

“Kami bersedia agar pergerakan jaringan dapat dihentikan,” ucapnya.

Singkat cerita, J dan Bonny sepakat bertemu di sebuah hotel di kawasan Harbour Bay, Batam, pada Sabtu (3/9) malam. Bonny juga berjanji membawa serta anak buahnya bernama Justin, imigran asal Afganistan. Saat itulah petugas Imigrasi Batam bergerak dan menangkap Justin.

“Sembilan lainnya ditangkap di berbagai tempat yang berbeda,” sebut Novyandri. Continue reading

September 11, 2016 Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar | Leave a comment